India Siap Setujui Perpanjangan Moratorium E-Commerce, AS Masih Mengincar Langkah Permanen

India mengisyaratkan kesiapan untuk mendukung perpanjangan moratorium e-commerce global selama dua tahun, meski masih menolak perpanjangan permanen yang diinginkan Amerika Serikat. Langkah ini muncul menjelang pertemuan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) di Yaounde, Kamerun.

Menteri Perdagangan India, Piyush Goyal, awalnya meragukan rencana AS untuk menjadikan moratorium tidak mengenakan tarif pada transaksi digital sebagai kebijakan permanen, yang seharusnya berakhir bulan ini. Namun, pada Jumat malam, India memberi sinyal persetujuan terhadap perpanjangan jangka pendek, menurut sumber diplomatik senior.

AS, melalui Perwakilan Dagang Jamieson Greer, menegaskan bahwa Washington hanya mempertimbangkan perpanjangan permanen. Sementara itu, beberapa anggota WTO, termasuk Kelompok Afrika, Karibia, dan Pasifik (ACP), menawarkan solusi kompromi berupa moratorium dua tahun. Diskusi tengah difokuskan pada kemungkinan perpanjangan antara lima hingga 10 tahun, sebagai jalan tengah antara posisi India dan AS.

Prediktabilitas dan Kekhawatiran Bisnis

Perpanjangan moratorium e-commerce dinilai penting oleh para pelaku bisnis teknologi besar, seperti Amazon, Microsoft, dan Apple, untuk menjaga stabilitas regulasi dan kepastian investasi. John Bescec, Direktur Urusan Bea Cukai dan Perdagangan Microsoft, menyatakan bahwa ketidakpastian dalam ekonomi digital berdampak langsung pada keputusan investasi dan ekspansi layanan digital lintas batas.

Di sisi lain, beberapa negara berkembang menilai moratorium ini membatasi potensi pendapatan pajak yang bisa digunakan untuk pembangunan domestik. Sofia Scasserra dari Transnational Institute menekankan bahwa moratorium cenderung menguntungkan raksasa teknologi Amerika, tanpa memberi dampak signifikan pada penguatan ekonomi digital di negara-negara berkembang.

Langkah WTO dalam memperpanjang moratorium e-commerce dipandang sebagai ujian kemampuan lembaga tersebut dalam menciptakan keputusan konkret di tengah gejolak perdagangan global, terutama setelah konflik Timur Tengah memengaruhi harga energi dan rantai pasok.

Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *