Platform kecerdasan buatan (AI) kini menjadi sasaran baru serangan siber seiring meningkatnya pemanfaatannya dalam kegiatan bisnis dan operasional perusahaan. Berdasarkan laporan 2026 X-Force Threat Intelligence Index dari IBM, lebih dari 300.000 kredensial akun ChatGPT terekspos sepanjang 2025 akibat aktivitas malware pencuri informasi. Kebocoran kredensial ini tidak hanya berisiko pada akses akun, tetapi juga dapat memicu penyalahgunaan teknologi AI, termasuk manipulasi keluaran sistem dan penyisipan prompt berbahaya.
Penyerang memiliki potensi untuk mengekstraksi data sensitif yang pernah dimasukkan pengguna serta memanfaatkan akses tersebut untuk tujuan jahat. Hal ini menegaskan pentingnya penguatan sistem keamanan identitas dan manajemen akses pada platform AI, terutama di perusahaan dengan adopsi teknologi tinggi.
AI Dimanfaatkan dalam Operasi Kejahatan Siber
Mark Hughes, Global Managing Partner for Cybersecurity Services di IBM, menekankan bahwa peningkatan penggunaan AI harus diiringi dengan strategi keamanan proaktif. Menurutnya, pendekatan berbasis deteksi dan respons ancaman berbasis agen diperlukan untuk mengidentifikasi celah keamanan dan mencegah serangan sebelum berdampak lebih luas.
Laporan IBM juga menunjukkan bahwa AI dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk mempercepat serangan. Teknologi ini memungkinkan analisis data dalam jumlah besar, mempercepat pengintaian sistem target, dan menjalankan jalur serangan secara otomatis. Beberapa sindikat di Asia Tenggara bahkan memanfaatkan AI dalam operasional mereka, termasuk penggunaan chatbot multibahasa untuk menjangkau korban di berbagai negara.
Tren Serangan Siber di Asia Pasifik
Kawasan Asia Pasifik tercatat sebagai wilayah dengan jumlah serangan siber terbesar kedua secara global, menyumbang sekitar 27% dari total kasus yang diamati tim X-Force. Pesatnya ekspansi digital dan ketegangan geopolitik di wilayah ini menjadi faktor menarik bagi pelaku ancaman. Malware menjadi metode serangan utama dengan porsi 45%, diikuti spam 15%, penggunaan alat sah 15%, dan akses server 10%. Sektor manufaktur menjadi target paling sering diserang selama lima tahun terakhir, dengan pencurian data sebagai dampak paling umum.
Peningkatan serangan siber pada platform AI menegaskan perlunya perusahaan untuk memperkuat keamanan siber, terutama terhadap kebocoran kredensial dan ancaman berbasis AI. Langkah proaktif dalam proteksi data dapat meminimalkan risiko penyalahgunaan teknologi ini.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com