China Perkuat Perlombaan Teknologi Tinggi dengan AS di Tengah Ketidakseimbangan Ekonomi

China tengah memperkuat perlombaan teknologi tinggi dengan Amerika Serikat (AS) melalui strategi ekonomi baru dalam Rencana Lima Tahun yang baru diumumkan. Percepatan ini dilakukan di tengah ketidakseimbangan ekonomi yang semakin terasa di dalam negeri. Dalam rencana strategis tersebut, teknologi modern seperti kecerdasan buatan (AI) ditempatkan sebagai pilar utama untuk pertumbuhan ekonomi dan keamanan nasional China.

Pada pembukaan sesi tahunan parlemen, Perdana Menteri Li Qiang menegaskan bahwa fokus pemerintah adalah menjadikan inovasi ilmiah dan teknologi canggih sebagai penggerak utama pembangunan, menggantikan ketergantungan pada konsumsi domestik yang relatif lemah. Ia juga mengakui adanya ketidakseimbangan antara pasokan yang kuat dan permintaan yang rendah, disertai tantangan dari sektor properti yang lesu serta tingginya utang pemerintah daerah.

Teknologi dan Inovasi Jadi Kunci Rencana Lima Tahun

Rencana strategis ini mencerminkan keyakinan Beijing bahwa perlombaan teknologi tinggi — bukan konsumsi — akan menjadi faktor penggerak utama bagi perekonomian China ke depan. Target utama termasuk peningkatan kontribusi industri ekonomi digital inti terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) hingga 12,5 persen dan pengembangan pasar data nasional yang terintegrasi serta sistem keamanan AI.

Investasi besar juga diarahkan ke riset dan pengembangan (R&D), sektor pertahanan, serta inovasi industri mutakhir seperti bioteknologi, komputasi kuantum, robotika bertenaga AI, dan manufaktur tingkat lanjut. Pemerintah bahkan mendorong perusahaan milik negara untuk menciptakan permintaan terhadap teknologi buatan China, termasuk semikonduktor dan drone, sebagai bagian dari strategi untuk menumbuhkan kemandirian teknologi nasional.

Pertumbuhan Ekonomi dan Tantangan Domestik

Seiring mempercepat perlombaan teknologi tinggi, pemerintah China menetapkan target pertumbuhan ekonomi yang sedikit lebih rendah, yakni antara 4,5 persen hingga 5 persen untuk tahun fiskal 2026. Angka ini sedikit menurun dari 5 persen pada tahun sebelumnya, yang sebagian besar dicapai melalui lonjakan surplus perdagangan. Di sisi lain, pemerintah menjanjikan adanya peningkatan konsumsi rumah tangga yang lebih signifikan, meskipun tanpa angka pasti.

Tantangan lain seperti permintaan domestik yang lesu dan risiko penurunan sektor properti memperkuat urgensi reformasi struktural. Namun, para analis memperkirakan perubahan besar dalam pola konsumsi kemungkinan akan berlangsung lambat karena model pertumbuhan ekonomi China masih banyak bergantung pada investasi dan produksi.

Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *