Di Amerika Serikat, sekitar 127 miliar botol plastik dibeli setiap tahun, menurut perkiraan. Namun, Twig’s Beverage, produsen minuman keluarga di Midwest, tetap mempertahankan sistem lama dengan menjual produknya dalam botol kaca kembalikan.
Sebelum era plastik, hingga tahun 1960-an, sebagian besar botol soda di AS memang dirancang untuk dikembalikan. Konsumen membayar deposit untuk botol kaca yang kuat, lalu menerima uang kembali saat mengembalikannya ke toko. Botol itu kemudian dicuci dan diisi ulang berkali-kali. Sistem ini mulai ditinggalkan karena plastik, tapi Twig’s tetap setia pada tradisi lama.
Di Shawano County, Wisconsin, pelanggan membayar deposit $20 untuk setiap kotak berisi 24 botol. Bahkan, mereka bisa langsung mengunjungi pabrik Twig’s di kota Shawano untuk mengisi ulang botol yang sama, termasuk botol vintage berusia sekitar 60 tahun. Ben Hartwig, wakil presiden Twig’s, mengatakan:
“Beberapa keluarga telah datang selama bertahun-tahun. Kasus botol ini diwariskan dari satu anggota keluarga ke yang lain. Nuansa nostalgia ini sangat dihargai pelanggan setia kami.”
Didirikan pada 1951 oleh kakek Hartwig, Floyd, produk unggulan Twig’s adalah Sun Drop, minuman soda rasa jeruk yang awalnya dikembangkan di Missouri pada 1940-an. Meskipun merek ini kini dimiliki oleh raksasa minuman AS, Keurig Dr Pepper, Twig’s tetap menjalankan produksi di wilayah Wisconsin dan beroperasi sebagai perusahaan independen.
Twig’s adalah satu-satunya produsen Sun Drop yang masih menggunakan botol kaca kembalikan dan salah satu dari sedikit perusahaan yang memakai gula asli, bukan sirup jagung fruktosa tinggi. Selain Sun Drop, Twig’s juga memproduksi berbagai soda buah, mulai dari root beer, black cherry, hingga orange dan lime.
Saat ini, Twig’s berfokus memperluas penjualan soda dengan botol kaca ke wilayah Midwest. Hartwig menambahkan, untuk pelanggan di luar Wisconsin, botol tidak bisa dikembalikan, melainkan harus didaur ulang.
“Jika pembeli berasal dari negara bagian lain, kemungkinan mereka tidak akan mengembalikan botol,” jelas Hartwig.
Memasuki usia 75 tahun, Twig’s memiliki sejarah unik. Floyd Hartwig memulai ide bisnis soda saat dirawat di rumah sakit di Tokyo, setelah terluka dalam Perang Korea. Sektor minuman mulai berkembang pesat di era pasca-Perang Dunia II, seiring meningkatnya preferensi masyarakat untuk minuman bungkus dibanding soda fountain.
Sejak 1986, keluarga Hartwig tetap memegang kendali perusahaan. Saat ini Twig’s dikelola oleh Ben, istrinya Annelies, dan saudara-saudaranya Jake dan Luke. Perusahaan mempekerjakan sekitar 20 orang dengan pendapatan tahunan sekitar $6,5 juta.
Twig’s sudah menjadi bagian dari budaya Shawano. Acara tahunan Sun Drop Dayz diselenggarakan sejak 2017, lengkap dengan musik dan kegiatan komunitas. Pengunjung juga bisa melihat pembuatan soda secara langsung di museum pabrik.
Fluktuasi harga bahan baku, terutama gula, menjadi tantangan sehari-hari. Ben Hartwig menegaskan, “Kami selalu mencari cara agar harga tidak naik, misalnya bekerja dengan pemasok gula berbeda. Banyak pemasok sudah jadi teman lama, jadi keputusan tidak mudah. Namun, sebagai bisnis keluarga, kami saling berbagi ide untuk mengatasi tantangan.”
Menurut American Beverage Association, banyak perusahaan minuman di AS tetap dimiliki keluarga dan menghasilkan merek yang sudah berusia puluhan hingga ratusan tahun. Hartwig berharap anak-anaknya kelak melanjutkan tradisi keluarga.
“Kesuksesan terbesar kami adalah mempertahankan tradisi selama 75 tahun dan melihatnya diteruskan ke generasi berikutnya,” ujar Hartwig.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di https://roledu.com/artikel.