Perusahaan kecerdasan buatan asal Amerika Serikat, Anthropic, menegaskan tidak akan menyerah dalam perselisihan dengan Departemen Pertahanan Amerika Serikat (DoD). Sengketa ini berkaitan dengan penggunaan AI militer yang dinilai berpotensi bertentangan dengan nilai demokrasi.
CEO Anthropic, Dario Amodei, menyatakan bahwa perusahaannya lebih memilih keluar dari rantai pasok Pentagon dibanding menyetujui penggunaan teknologi yang dapat “melemahkan nilai demokrasi, bukan melindunginya”.
Pernyataan tersebut disampaikan dua hari setelah pertemuannya dengan Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth. Dalam pertemuan itu, pihak Pentagon meminta Anthropic menerima klausul “setiap penggunaan yang sah secara hukum” atas sistem AI mereka. Jika tidak, perusahaan terancam dicoret dari daftar pemasok resmi.
Sengketa soal Pengawasan dan Senjata Otonom
Inti keberatan Anthropic terletak pada potensi pemanfaatan teknologi seperti Claude untuk pengawasan massal di dalam negeri dan pengembangan senjata otonom penuh.
Amodei menegaskan bahwa skenario tersebut tidak pernah tercantum dalam kontrak awal. Ia juga menyebut istilah “Department of War” yang kini digunakan sebagai nama alternatif Departemen Pertahanan berdasarkan perintah eksekutif Presiden Donald Trump pada September lalu.
Menurutnya, kecerdasan buatan mampu menggabungkan data terpisah menjadi gambaran lengkap kehidupan seseorang dalam skala besar. Hal inilah yang membuat pengawasan massal berisiko melanggar prinsip demokrasi.
Anthropic menyatakan mendukung penggunaan AI untuk misi intelijen luar negeri yang sah. Namun, perusahaan menolak keras jika teknologi tersebut dipakai untuk memantau warga negara secara luas.
Ancaman Sanksi dari Pentagon
Seorang pejabat Pentagon sebelumnya menyebut bahwa jika Anthropic tidak mematuhi permintaan, pemerintah dapat menggunakan Defense Production Act. Regulasi tersebut memberi kewenangan kepada presiden untuk mewajibkan perusahaan memenuhi kebutuhan pertahanan nasional.
Selain itu, Pentagon juga mengancam akan melabeli Anthropic sebagai “risiko rantai pasok”. Status ini dapat menutup akses perusahaan terhadap kontrak pemerintah.
Wakil Menteri Pertahanan AS, Emil Michael, bahkan melontarkan kritik pribadi terhadap Amodei melalui media sosial. Ia menyatakan bahwa perusahaan seharusnya mempercayai militer dalam menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Michael menambahkan bahwa praktik yang dikhawatirkan Anthropic sebenarnya sudah dilarang oleh hukum dan kebijakan Pentagon. Namun, ia juga menyinggung pentingnya kesiapan menghadapi persaingan teknologi dengan Tiongkok.
Kekhawatiran atas Senjata Otonom
Anthropic juga menilai sistem AI saat ini belum cukup andal untuk mengendalikan senjata otonom sepenuhnya. Menurut Amodei, tanpa pengawasan ketat, sistem tersebut berpotensi membahayakan prajurit dan warga sipil.
Perusahaan menyatakan siap bekerja sama dalam penelitian dan pengembangan untuk meningkatkan keandalan sistem AI. Namun, tawaran tersebut belum mendapat tanggapan positif dari pihak Departemen Pertahanan.
Ketegangan ini sebenarnya telah berlangsung beberapa bulan. Sumber yang mengetahui negosiasi menyebut perselisihan muncul sebelum publik mengetahui bahwa teknologi Claude digunakan dalam operasi AS terhadap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro.
Tantangan Umum dalam Penerapan AI
Kasus ini mencerminkan perdebatan global tentang batas penggunaan AI militer dan perlindungan hak sipil. Di sisi lain, berbagai perusahaan terus mengembangkan agen AI untuk meningkatkan efisiensi layanan.
Namun, teknologi ini masih memiliki kelemahan. AI dapat menghasilkan respons yang tidak akurat atau menyimpang. Beberapa perusahaan bahkan pernah menghentikan chatbot mereka karena perilaku tak terduga.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa adopsi AI memerlukan pengawasan ketat dan regulasi yang jelas agar manfaatnya tidak berubah menjadi risiko.
Perselisihan antara Anthropic dan Pentagon menjadi contoh nyata bagaimana kemajuan teknologi perlu diimbangi dengan tanggung jawab etis dan hukum. Perdebatan ini kemungkinan akan terus berkembang seiring meningkatnya peran AI dalam sektor pertahanan.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com