Teknologi kecerdasan buatan diperkirakan akan membawa perubahan besar dalam cara masyarakat berbelanja. Kantor Komisioner Informasi Inggris (ICO) menyebutkan bahwa dalam lima tahun mendatang, publik berpeluang menggunakan asisten belanja AI yang mampu beroperasi secara mandiri.
AI generasi baru ini tidak lagi bergantung pada perintah langsung. Sistemnya dirancang untuk mengenali kebiasaan pengguna, memahami kebutuhan, lalu mengambil tindakan secara otomatis sesuai konteks.
Agentic AI Mengambil Peran Lebih Aktif
Menurut Direktur Eksekutif Regulasi dan Inovasi ICO, William Malcolm, teknologi tersebut dikenal sebagai Agentic AI. Berbeda dengan AI konvensional, sistem ini memiliki kemampuan membuat keputusan serta mengeksekusi tindakan secara otonom.
Agen AI pribadi dapat digunakan untuk berbagai keperluan praktis. Fungsinya mencakup pembelian barang rutin, pemesanan tiket perjalanan, hingga membantu mengatur keuangan rumah tangga. Seluruh proses dilakukan berdasarkan analisis data perilaku pengguna.
ICO menilai kemampuan ini memungkinkan konsumen menyerahkan sebagian pengelolaan belanja kepada AI. Asisten belanja AI juga dinilai mampu menyusun anggaran bulanan serta menentukan waktu pembelian paling efisien, termasuk saat program potongan harga tersedia.
Masuk ke Ranah Keputusan Finansial
Laporan regulator tersebut juga mengungkap potensi perluasan peran Agentic AI ke sektor keuangan. Agen AI dapat menelusuri berbagai opsi pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pengguna.
Hasil pencarian itu kemudian disajikan sebagai rekomendasi. Pengguna tetap memiliki kendali akhir sebelum keputusan diambil. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu konsumen menghadapi pilihan finansial yang semakin kompleks.
Namun, meningkatnya peran AI otomatis berarti volume data pribadi yang digunakan juga semakin besar. Kondisi ini memicu kekhawatiran terkait perlindungan privasi.
Privasi Data Jadi Perhatian Utama Regulator
ICO menegaskan bahwa keamanan data harus menjadi fondasi utama pengembangan AI. Risiko penyalahgunaan informasi dinilai akan meningkat seiring bertambahnya kecanggihan sistem AI.
Kekhawatiran tersebut semakin terasa setelah chatbot Grok, yang dikembangkan perusahaan Elon Musk, menjadi sorotan publik. Chatbot tersebut dikritik karena menghasilkan konten visual tidak pantas, sehingga memicu perdebatan soal keselamatan pengguna.
William Malcolm menyatakan bahwa perlindungan data yang kuat berperan penting dalam membangun kepercayaan masyarakat. Menurutnya, kepercayaan publik akan menentukan kecepatan dan keberhasilan adopsi teknologi AI.
Dalam laporan Tech Feature, ICO menilai kepatuhan terhadap standar perlindungan data dapat menjadi nilai tambah bagi perusahaan teknologi. Regulator Inggris juga memastikan akan terus memantau perkembangan AI hingga 2026.
ICO menyatakan siap bekerja sama dengan pengembang untuk memperjelas tanggung jawab hukum mereka. Langkah ini diharapkan membuat konsumen merasa lebih aman saat menggunakan layanan berbasis asisten belanja AI.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.