SpaceX, perusahaan antariksa milik Elon Musk, mengumumkan rencana menurunkan ketinggian orbit seluruh satelit Starlink mulai 2026. Tujuannya, untuk meningkatkan keselamatan di ruang angkasa dan meminimalkan risiko tabrakan dengan objek lain. Saat ini, satelit Starlink mengorbit sekitar 550 km, namun nantinya akan dipindahkan secara bertahap ke 480 km.
Wakil Presiden Teknik Starlink, Michael Nicolls, menjelaskan bahwa orbit yang lebih rendah memiliki kepadatan satelit dan puing yang jauh lebih rendah. “Dengan memindahkan satelit ke orbit yang lebih rendah, kemungkinan terjadinya benturan antar objek berkurang secara signifikan,” kata Nicolls melalui akun media sosialnya, Jumat (2/1/2026).
Langkah ini juga menjadi respons terhadap insiden yang menimpa salah satu satelit Starlink pada 17 Desember 2025. Satelit tersebut mengalami penurunan ketinggian mendadak hingga empat kilometer dan menghasilkan sejumlah kecil puing. Data awal mengindikasikan kemungkinan adanya ledakan internal pada satelit, kejadian yang jarang terjadi bagi Starlink.
Keselamatan Ruang Angkasa Jadi Prioritas
SpaceX menegaskan komitmennya terhadap keselamatan ruang angkasa. Perusahaan menyebut tim insinyur sedang menelusuri penyebab anomali dan telah melakukan pembaruan perangkat lunak untuk mencegah kejadian serupa.
Langkah ini dinilai penting, mengingat lalu lintas satelit di orbit Bumi semakin padat. Berbagai negara dan perusahaan swasta kini berlomba menempatkan puluhan ribu satelit untuk mendukung internet dan komunikasi global.
Hingga kini, Starlink mengoperasikan hampir 10.000 satelit, menjadikan SpaceX sebagai operator satelit terbesar di dunia. Infrastruktur ini melayani pelanggan ritel, pemerintah, hingga segmen korporasi, sekaligus menjadi tulang punggung layanan internet satelit global.
Dengan penurunan orbit ini, SpaceX berharap operasi satelit dapat lebih aman, efisien, dan berkelanjutan dalam jangka panjang.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.