Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) diprediksi memberi tekanan besar pada pasar kerja Indonesia di 2026. Heru Sutadi, Direktur Eksekutif Indonesia Information and Communication Technology (ICT) Institute, menekankan pekerja muda dan posisi entry-level menjadi kelompok yang paling terdampak.
Heru memperkirakan peluang kerja untuk level pemula bisa menurun hingga 20%, lebih tinggi dibandingkan negara lain yang rata-rata 13%. Kondisi ini menjadi perhatian karena jumlah pekerja muda Indonesia meningkat akibat bonus demografi.
Sektor Pekerjaan dan Kebijakan Pendukung
Beberapa sektor seperti manufaktur dan administrasi diprediksi mengalami penurunan serapan tenaga kerja akibat otomatisasi berbasis AI. Heru menekankan bahwa AI baru akan menciptakan peluang kerja secara signifikan bila disertai kebijakan nasional yang jelas, sistem pendidikan yang modern, serta program reskilling dan upskilling yang terstruktur.
Sebagai contoh, Singapura telah menyiapkan dukungan komprehensif untuk pengembangan keterampilan digital dan AI. Pemerintah setempat mengalokasikan investasi lima tahun untuk pengembangan AI, menambah dana produktivitas nasional, serta memberikan kredit SkillsFuture dan tunjangan pelatihan bagi warga usia 40 tahun ke atas.
Risiko AI dan Strategi Nasional
Selain dampak pada pekerjaan, AI menghadirkan risiko etika dan keamanan. Potensi misinformasi, deepfake, hingga kerentanan data menjadi sorotan utama. Meskipun infrastruktur digital Indonesia, seperti pusat data dan jaringan telekomunikasi, mulai memadai, arah strategis pengembangan AI masih minim.
Heru menilai implementasi AI di Indonesia lebih bersifat simbolik dan promosi, tanpa peta jalan yang jelas. Indonesia saat ini berada di peringkat menengah dalam Indeks Kesiapan AI global. Hal ini menandakan perlunya pembenahan menyeluruh, mulai dari kebijakan, infrastruktur, hingga pengembangan sumber daya manusia.
Fokus pembangunan nasional saat ini masih condong pada sektor lain, seperti penguatan militer, program Makan Bergizi Gratis, dan hilirisasi industri. Padahal, transformasi digital kini krusial di semua bidang, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga layanan publik.
Heru menegaskan bahwa pemanfaatan AI memerlukan proses menyeluruh: re-imagining, re-thinking, re-planning, dan re-skilling. Tanpa strategi yang jelas, Indonesia berisiko tertinggal dalam adopsi AI.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.