SUN Energy terus memperkuat kehadirannya di sektor energi terbarukan Indonesia dengan memperluas layanan energi surya dan pengembangan Battery Energy Storage System (BESS). Salah satu terobosan terbaru adalah proyek Containerized BESS (CBESS), yang menjadi solusi pertama di Indonesia untuk sektor industri dengan kebutuhan energi besar.
CEO SUN Energy, Emmanuel Jefferson Kuesar, menegaskan bahwa teknologi penyimpanan energi akan menjadi kunci dalam mendorong dekarbonisasi dan efisiensi operasional industri. “Kami menargetkan sektor dengan konsumsi energi tinggi, seperti pertambangan dan manufaktur berat. Integrasi antara pembangkitan, penyimpanan, dan manajemen energi memastikan pasokan stabil sekaligus mengurangi emisi,” ujarnya.
Implementasi CBESS dan Kolaborasi Industri
Proyek CBESS yang diluncurkan SUN Energy pada 2025 berhasil diterapkan di sektor pertambangan, menandai langkah perusahaan menuju sistem energi terintegrasi. Selain itu, SUN Energy mengembangkan PLTS dengan CBESS di PT Cipta Kridatama, anak perusahaan PT ABM Investama Tbk (ABMM).
Perusahaan juga memperluas kerja sama dengan kawasan industri untuk membangun sistem energi yang lebih menyeluruh, termasuk integrasi elektrifikasi armada operasional dan infrastruktur kendaraan listrik. Pendekatan ini memungkinkan pengelolaan energi dan emisi secara komprehensif, mulai dari pembangkitan hingga mobilitas, mendukung strategi keberlanjutan jangka panjang perusahaan industri.
Hingga saat ini, SUN Energy telah memasang PLTS untuk lebih dari 20 tenant di tiga kawasan industri besar: Karawang International Industrial City (KIIC), Greenland International Industrial Center (GIIC), dan Kawasan Industri Jababeka melalui Bekasi Power. Total kapasitas terpasang melebihi 20 MW, melayani berbagai sektor industri dan komersial.
Kontribusi Global dan Ekspansi di Indonesia
Dengan pengalaman global, SUN Energy telah mengoperasikan proyek energi surya 420 MW di empat negara, menghasilkan lebih dari 650 juta kWh listrik bersih, atau setara dengan pengurangan emisi karbon 506 juta kg CO₂ per tahun. Di Indonesia, total kapasitas PLTS sektor industri yang dikembangkan mencapai 240 MW, menjadikan SUN Energy salah satu pengembang energi surya terbesar di Tanah Air.
Pertumbuhan paling signifikan terlihat pada sektor dengan intensitas energi tinggi, termasuk semen, FMCG, kertas, plastik, elektronik, dan otomotif, terutama di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Banten. Memasuki 2026, SUN Energy berencana memperluas peran sebagai Independent Power Producer (IPP) dan meningkatkan proyek energi surya berskala besar untuk mendukung bauran energi nasional dan memperluas jangkauan solusi energi bersih.
Data PLN menunjukkan tren positif: jumlah pelanggan PLTS Atap mencapai 11.392 dengan kapasitas terpasang 772,9 MW, menandakan adopsi energi terbarukan terus meningkat di sektor industri.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.