Harga Smartphone di Indonesia Naik Karena Tekanan Pasokan Global

Industri smartphone Indonesia menghadapi tantangan serius akibat keterbatasan pasokan komponen global. Untuk tetap kompetitif, para vendor menyesuaikan harga sekaligus memperkuat kualitas produk. Xiaomi Indonesia menyatakan bahwa penentuan harga smartphone tidak hanya dipengaruhi kondisi pasar lokal, tapi juga fluktuasi nilai tukar, regulasi pajak, dan biaya logistik. Evaluasi harga dilakukan secara rutin agar tetap mencerminkan kondisi pasar nyata dan mendukung investasi dalam inovasi produk. Marketing Director Xiaomi Indonesia, Andi Renreng, menegaskan bahwa setiap penyesuaian harga selalu mempertimbangkan ekspektasi konsumen dan persaingan di pasar, agar smartphone tetap menawarkan keseimbangan optimal antara performa, kualitas, dan harga terjangkau.

Pengalaman Pengguna Tetap Jadi Prioritas Vendor

Sementara itu, Vivo Indonesia menekankan bahwa pengalaman pengguna menjadi fokus utama, meski pasar global sedang tertekan. PR Manager Vivo Indonesia, Alexa Tiara, menyebutkan bahwa perusahaan terus meningkatkan kualitas produk, memperbaiki pengalaman pengguna, dan menjaga konsistensi layanan purnajual. Pendekatan ini penting untuk mempertahankan kepercayaan konsumen, terutama saat keterbatasan komponen dan biaya produksi yang naik menjadi tantangan. “Vivo berkomitmen menghadirkan pengalaman penggunaan yang aman dan terpercaya dalam jangka panjang,” ujar Alexa.

AI Memperparah Tekanan Pasokan Memori

Permintaan chip untuk kecerdasan buatan (AI) turut membebani pasokan semikonduktor global, memicu kenaikan harga smartphone. Menurut laporan Counterpoint, kekurangan DRAM berpotensi meningkatkan rata-rata harga jual smartphone hingga 6,9% pada 2026, hampir dua kali lipat dari perkiraan sebelumnya. Vice President Data & Analytics Device IDC, Fransisco Jeronimo, menjelaskan bahwa pembangunan infrastruktur AI dan beban kerja komputasi tinggi menyerap sebagian besar kapasitas produksi memori. Produsen kini lebih fokus memproduksi memori berperforma tinggi untuk pusat data AI, seperti HBM dan DDR5, sementara pasokan DRAM untuk konsumen terbatas. Kondisi ini memperkuat tekanan harga di pasar.

Peralihan prioritas produksi ini membuat vendor smartphone harus menyesuaikan strategi penjualan untuk menjaga keseimbangan antara harga, kualitas, dan performa. Alih-alih menambah produksi DRAM dan NAND untuk smartphone, produsen lebih memprioritaskan memori AI yang menawarkan margin lebih tinggi.


Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *