Di hamparan rumput tinggi pinggiran Beijing, Silva Gu bergerak pelan, matanya menelusuri setiap gerakan sekecil apa pun. Malam masih pekat, kota besar di belakang mereka belum bangun, hanya terdengar napas tim yang menyelinap mencari tempat aman.
Saat fajar mulai merekah, terdengar langkah manusia — para pemburu burung sudah tiba. Dengan sigap dan lincah, Silva memimpin, diikuti tim kamera. Mereka menemukan jaring tipis yang hampir tak terlihat, siap menjebak burung-burung kecil yang terbang melintas.
Setiap tahun, puluhan ribu burung ditangkap di China untuk dijual sebagai hewan peliharaan atau dijadikan makanan. Dengan ekonomi yang melambat akibat pandemi dan krisis properti, menangkap dan menjual burung liar menjadi cara cepat untuk meraup untung. Seekor Siberian rubythroat bisa dihargai sampai 2.000 yuan, lebih dari penghasilan sebulan petani lokal.
“Saya ingin melindungi burung di dunia yang dikendalikan manusia ini,” kata Silva. “Dalam mimpi saya, saya selalu terbang bersama mereka.”
Migrasi dan Ancaman Nyata
Musim gugur membawa miliaran burung migran meninggalkan Siberia dan Mongolia menuju selatan. China menjadi jalur penting bagi lebih dari 800 spesies burung migran. Perjalanan mereka penuh risiko, harus menghadapi badai dan predator sambil mencari tempat beristirahat.
Sayangnya, rumput di pinggiran kota yang menjadi oase burung juga menjadi sasaran para pemburu. Salah satu burung yang terjebak adalah meadow pipit, spesies dilindungi yang menjadi indikator kesehatan ekosistem. Silva berhasil menahan seorang pemburu hingga polisi tiba, menyelamatkan burung-burung dari nasib tragis.
Komitmen Penuh Risiko
Sejak 2015, Silva mengabdikan diri untuk menyelamatkan burung liar, sepenuhnya dari tabungan pribadi. Ia mendirikan Beijing Migratory Bird Squad, bekerja sama dengan sukarelawan dan polisi.
“Awalnya saya takut, tapi kalau memang ingin melakukan sesuatu, rasa takut itu akan hilang,” ujarnya.
Meskipun pernah diserang pedagang burung dan kehilangan relawan, Silva terus fokus. Ia menggunakan citra satelit untuk memetakan jalur migrasi burung dan lokasi jaring pemburu, mencegah penangkapan massal.
Burung seperti Siberian rubythroat dan bluethroat tetap menjadi burung paling dicari karena harganya tinggi. Memelihara burung sebagai simbol status masih populer, terutama di kalangan pria berusia 60-an. Silva menilai pendidikan tentang konservasi belum meresap ke generasi tua, sehingga kebiasaan ini sulit diubah.
Harapan dari Generasi Muda
Di tepi Sungai Liangshui, pedagang burung masih mencoba menjual satwa langka, meski polisi semakin rutin memeriksa. Perdagangan satwa liar ilegal diperkirakan bernilai hampir 20 miliar dolar AS, dengan China sebagai konsumen terbesar.
Perubahan sikap pemerintah mulai terlihat. Perlindungan burung kini dianggap penting untuk menjaga ekosistem yang menopang manusia. Silva sendiri telah menyelamatkan lebih dari 20.000 burung dalam 10 tahun terakhir.
“Ini cita-cita saya. Kalau punya cita-cita, harus terus diperjuangkan,” katanya. Setiap musim migrasi, ia tetap berpatroli di hamparan rumput Beijing, berharap kota ini kembali dipenuhi kicauan burung seperti masa kecilnya.