Pendapatan Nvidia pada kuartal III/2025 kembali mencetak rekor. Perusahaan membukukan pemasukan US$57 miliar atau sekitar Rp954,47 triliun, tumbuh 62% dibanding periode yang sama tahun lalu. Laba bersih menurut laporan GAAP mencapai US$32 miliar atau sekitar Rp535,84 triliun. Capaian ini melampaui proyeksi analis dan mempertegas posisi Nvidia sebagai pemain kunci di pasar komputasi AI.
Pendorong terbesar berasal dari bisnis pusat data, yang menyumbang US$51,2 miliar atau sekitar Rp857,34 triliun. Angka tersebut naik 25% dibanding kuartal sebelumnya dan tumbuh 66% secara tahunan. Segmen gaming menghasilkan US$4,2 miliar, sementara pendapatan lainnya berasal dari visualisasi profesional dan otomotif.
Permintaan AI Meningkat, Kendala China Berlanjut
Kuatnya kinerja tidak lepas dari penjualan GPU Blackwell yang diumumkan pada Maret lalu. CEO Nvidia Jensen Huang menyebut permintaan untuk chip ini jauh di atas perkiraan. Menurutnya, kebutuhan komputasi AI terus naik di berbagai industri, baik untuk pelatihan model maupun inferensi.
CFO Colette Kress menjelaskan bahwa pertumbuhan juga dipacu percepatan komputasi dan hadirnya model AI generasi terbaru. Pada periode tersebut, Nvidia mengumumkan proyek infrastruktur dan pabrik AI dengan kapasitas hingga 5 juta GPU. Permintaan datang dari penyedia cloud, lembaga pemerintah, perusahaan teknologi, dan pusat superkomputer.
Meski mencatat hasil kuat, Nvidia menghadapi tantangan pada chip pusat data H20. Pengiriman hanya mencapai 50 juta unit karena pembatasan penjualan ke China dan meningkatnya kompetisi. Kress menyebut pesanan besar yang diantisipasi dari China tidak terwujud akibat tensi geopolitik.
Perusahaan menyatakan tetap membuka dialog dengan pemerintah AS dan China untuk menemukan solusi. Nvidia menargetkan pendapatan US$65 miliar pada kuartal IV/2025. Proyeksi optimistis ini membuat saham Nvidia naik lebih dari 4% dalam perdagangan setelah jam bursa.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.