Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia mulai memperluas usaha ke sektor waste to energy (WTE) atau konversi sampah menjadi energi listrik. Langkah ini sejalan dengan fokus pemerintahan Prabowo Subianto dalam memperkuat kapasitas energi bersih nasional.
Emiten Perkuat Portofolio Energi Bersih
PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA) menjadi salah satu pemain utama. Hingga akhir Juni 2025, proyek WTE miliknya mencatat pendapatan US$59,6 juta dengan EBITDA US$10 juta. PT Maharaksa Biru Energi Tbk. (OASA) juga melibatkan mitra asal China untuk membangun fasilitas pengolahan sampah menjadi listrik (PSEL) yang ditargetkan beroperasi pada 2028.
PT United Tractors Tbk. (UNTR) melalui anak usaha menjalin kerja sama dengan Pemprov Jawa Barat sejak 2023, meski kontribusi energi bersih terhadap portofolionya masih di bawah 5% pada semester I/2025. Sementara itu, PT Sumber Global Energy Tbk. (SGER) menargetkan pendapatan US$8 juta–US$26 juta dari proyek WTE setelah mengakuisisi 80% saham PT Jabar Bersih Lestari pada 2022. PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk. (BIPI) pun berencana memulai proyek serupa pada 2026 dengan kebutuhan dana US$300 juta–US$350 juta.
Prospek dan Tantangan Proyek WTE
Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, menilai dukungan regulasi pemerintah dan komitmen PLN sebagai offtaker menjadi kunci masuknya emiten ke sektor ini. Menurutnya, bisnis WTE cenderung stabil karena berbasis kontrak jangka panjang (power purchase agreement) yang memberikan pendapatan berulang. Namun, tantangan tetap ada, mulai dari kebutuhan modal besar, harga beli listrik tinggi, hingga risiko pendanaan dan teknologi.
Equity Analyst Indo Premier Sekuritas, Imam Gunadi, menambahkan bahwa penetapan harga beli listrik yang lebih tinggi dapat meningkatkan kelayakan proyek. Selama ini, internal rate of return (IRR) proyek WTE masih berada di level belasan persen dan kalah bersaing dengan pembangkit fosil. Karena itu, peran pemerintah dinilai penting untuk memastikan daya tarik investasi.
TOBA disebut sebagai contoh emiten yang aktif melakukan transformasi bisnis dari batu bara ke energi terbarukan. Perusahaan ini telah mengakuisisi Sembcorp Waste di Singapura senilai US$414 juta, mengembangkan pengolahan limbah medis, membangun panel surya terapung 46 MWp di Batam yang ditargetkan beroperasi pada 2026, serta ikut dalam konsorsium proyek surya 2,2 GW dengan porsi 200 MW.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.