Nike Turnaround Mulai Tunjukkan Hasil, Meski Tantangan Global Masih Membayangi

Nike turnaround yang dipimpin CEO Elliott Hill mulai menunjukkan hasil positif sejak ia mengambil alih tahun lalu. Fokus perusahaan kembali diarahkan ke produk olahraga setelah sebelumnya lebih banyak mendorong lini gaya hidup. Upaya ini mulai mendongkrak pertumbuhan penjualan Nike, meski tantangan global seperti pemulihan lambat di China dan beban tarif impor masih menekan kinerja.

Dalam laporan kuartalan terbaru, Nike berhasil mencatat kenaikan pendapatan yang mengejutkan analis. Perusahaan juga melampaui perkiraan laba meski tipis, didorong oleh strategi agresif dalam membersihkan stok lama dan memangkas lini produk yang kurang relevan.

Produk Olahraga Jadi Penopang Pertumbuhan

Pesanan musim semi menunjukkan kenaikan dari tahun sebelumnya, terutama di kategori olahraga. Model lari seperti Vomero, Pegasus, dan P-6000 berhasil menarik kembali minat konsumen. Penjualan di kategori lari, latihan, dan basket bahkan mencatat pertumbuhan dua digit di Amerika Utara, mengakhiri periode penurunan yang berlangsung hampir setahun.

Analis menilai respons pasar ritel cukup positif. Ritel besar seperti Foot Locker dan Dick’s Sporting Goods mendukung strategi baru Nike, terutama dengan deretan sepatu lari yang lebih inovatif. Saham Nike pun naik sekitar 4,5% setelah perseroan melaporkan penurunan persediaan sebesar 2%.

Tantangan Tarif dan Pasar China

Meski momentum pertumbuhan penjualan Nike mulai terbentuk, perusahaan tetap menghadapi tekanan besar. Biaya tarif diperkirakan meningkat hingga USD 1,5 miliar, lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya sebesar USD 1 miliar. Tekanan ini, ditambah dengan diskon besar untuk menguras stok lama, membuat margin keuntungan tetap tertekan.

Pasar China, yang menyumbang sekitar 15% pendapatan Nike, masih sulit ditembus. Persaingan ketat dengan merek lokal seperti Anta dan Li-Ning semakin memperberat posisi perusahaan. Selain itu, kondisi ekonomi yang belum pulih sepenuhnya turut memperlambat penjualan.

Di sisi lain, bisnis digital Nike juga belum stabil. Pendapatan kanal online turun 12% karena perusahaan memangkas promosi. Manajemen memperkirakan unit direct-to-consumer baru bisa kembali tumbuh pada tahun fiskal 2026, setelah persediaan lini klasik seperti Air Force One dan Air Jordans dibersihkan.

Fokus pada Inovasi dan Acara Besar

Nike kini menyiapkan strategi pemasaran agresif untuk menyambut Piala Dunia Sepak Bola di Amerika Utara tahun depan. Peluncuran produk baru diharapkan dapat mendukung momentum positif perusahaan, meski analis memperkirakan pemulihan penuh baru akan terjadi pada 2026.


Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *