ASOS memperingatkan bahwa pendapatan tahunan kemungkinan tidak akan mencapai perkiraan pasar karena lemahnya permintaan konsumen. Perusahaan mode daring asal Inggris itu juga menyebut laba hanya akan berada di batas bawah proyeksi. Kabar ini membuat saham ASOS anjlok 11% pada perdagangan Selasa (1/10), sehingga total penurunan harga saham sepanjang tahun mencapai lebih dari 40%.
Tantangan Persaingan dan Tekanan Pasar
ASOS berupaya menghidupkan kembali daya tarik fast-fashion di kalangan konsumen berusia 20-an. Namun, perusahaan menghadapi persaingan ketat dari merek asal Tiongkok serta dampak tarif perdagangan Amerika Serikat. Inggris masih menjadi pasar terbesar, sementara Amerika Serikat menyumbang sekitar 10% dari total penjualan.
Perusahaan sebelumnya memproyeksikan laba inti yang disesuaikan antara 130 juta hingga 150 juta pound sterling (sekitar Rp3,6 triliun – Rp4,1 triliun). Meski demikian, ASOS menegaskan bahwa laba masih akan naik lebih dari 60% dibanding tahun lalu, berkat pengendalian biaya dan peningkatan margin.
Prospek dan Strategi ASOS
ASOS mengakui pendapatan akan berada sedikit di bawah perkiraan analis, yang sebelumnya memperkirakan penurunan penjualan 8,4% secara tahunan pada 2025. Nilai barang dagangan kotor (GMV) juga diprediksi lebih rendah karena perusahaan memprioritaskan penjualan dengan kualitas lebih baik.
Analis J.P. Morgan menilai merek ASOS masih menghadapi pertanyaan terkait kekuatan brand dalam jangka menengah. Namun, perusahaan optimistis kinerja laba dan arus kas bebas pada tahun fiskal 2026 akan sesuai dengan ekspektasi pasar. Sejumlah langkah penghematan yang dijalankan sejak Maret hingga September diharapkan memberi dampak positif pada tahun keuangan berikutnya.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.