Sarah Wynn-Williams, mantan direktur kebijakan publik global Facebook (kini Meta), dilaporkan hampir bangkrut setelah menerbitkan buku berjudul Careless People. Buku tersebut berisi tuduhan tentang kerja sama Meta dengan Tiongkok serta perlakuannya terhadap remaja, termasuk dugaan pelecehan seksual yang telah dibantah perusahaan.
Meta berhasil mengajukan perintah pengadilan yang melarang Wynn-Williams mempromosikan bukunya. Jika melanggar, ia terancam denda sebesar 50.000 dolar AS (sekitar Rp770 juta) setiap kali melakukan pelanggaran. Perusahaan menyatakan, perjanjian non-disparagement itu ditandatangani secara sukarela saat Wynn-Williams keluar dari perusahaan pada 2017.
Dukungan Politik dan Penjualan Buku
Kasus ini mencuat di parlemen Inggris setelah Louise Haigh, mantan menteri transportasi dari Partai Buruh, menuduh Meta berusaha “membungkam dan menghukum” Wynn-Williams. Ia menekankan perlunya perlindungan bagi para pelapor pelanggaran (whistleblower).
Meski dibatasi promosi, Careless People telah terjual lebih dari 150.000 eksemplar dan masuk daftar buku terlaris versi The Sunday Times. Pan Macmillan, penerbit buku tersebut, juga mengonfirmasi edisi paperback akan dirilis tahun depan.
Meta menolak klaim dalam buku maupun kesaksian Wynn-Williams di Senat AS. Perusahaan menyebut tuduhan itu keliru, sementara pemecatannya pada 2017 dikaitkan dengan “kinerja buruk dan perilaku toksik”.
Dalam pernyataan tertulis, Wynn-Williams menyebut dirinya tetap bungkam karena proses arbitrase yang berlangsung, meski penyelidikan Senat AS atas praktik Meta masih berjalan.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.






