Kelompok ritel Co-op mencatat kerugian setelah serangan siber yang disebut “bermotif jahat” menggerus laba sebesar £80 juta pada paruh pertama 2025. Perusahaan yang mengoperasikan lebih dari 2.000 toko grosir dan 800 layanan pemakaman itu harus menutup sebagian sistem TI pada April lalu akibat upaya peretasan.
Gangguan tersebut membuat pasokan barang di toko terganggu dan beberapa layanan pemakaman kembali menggunakan sistem manual berbasis kertas. Co-op memperkirakan kerugian pendapatan mencapai £206 juta, dengan laba operasi terpangkas £80 juta. Secara keseluruhan, pendapatan turun 2,1% menjadi £5,5 miliar, berbalik dari laba sebelum pajak £58 juta tahun lalu menjadi rugi £50 juta.
Kebocoran Data Anggota
Pada Juli, Co-op mengonfirmasi bahwa serangan itu juga berdampak pada 6,5 juta anggota yang datanya berhasil dicuri peretas. Informasi yang bocor meliputi nama, alamat, dan kontak, namun perusahaan menegaskan data finansial seperti detail kartu kredit tidak ikut terdampak.
CEO Shirine Khoury-Haq menilai insiden tersebut menyingkap kekuatan sekaligus kelemahan bisnis, khususnya pada unit makanan. Ia menyebut Co-op sudah memulai langkah perbaikan dengan memperkuat penawaran untuk anggota, menata ulang struktur bisnis, serta menyiapkan strategi jangka panjang.
Ketua perusahaan juga menegaskan serangan siber menjadi tantangan utama semester pertama. Hingga kini Co-op masih menghadapi dampak lanjutan, meski skalanya semakin berkurang.
Rencana Ekspansi
Meski dirundung masalah, Co-op tetap berencana membuka 30 gerai baru pada paruh kedua tahun ini. Termasuk di dalamnya toko makanan dan waralaba. Pada Juli lalu, Co-op juga meresmikan gerai “on the go” pertama di Solihull, Birmingham, yang menargetkan pasar cepat saji dan bersaing dengan Greggs, Pret a Manger, hingga Subway.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.






