Industri Cognac Alami Penurunan Pendapatan 13%

Pendapatan tahunan industri cognac turun 13% menjadi 2,7 miliar euro (sekitar 3,1 miliar dolar AS), menurut data BNIC. Penurunan ini dipicu turunnya permintaan untuk varian premium dan melemahnya pasar ekspor ke China. Padahal, selama pandemi penjualan cognac sempat melonjak, didorong kenaikan harga signifikan akibat inflasi.

Ekspor global juga terkendala faktor eksternal. China, salah satu pasar terbesar, melakukan penyelidikan anti-dumping yang memicu penurunan ekspor hingga 24,4%. Sementara itu, Amerika Serikat tetap mengenakan bea masuk umum 15% meski industri berhasil mencegah bea tambahan di China pada Juli lalu.

Pergeseran ke Produk Entry-Level

Total pengiriman menurun 4,2% menjadi 154,6 juta botol hingga 31 Juli. Penurunan nilai lebih tajam karena pergeseran konsumen ke kategori cognac entry-level, yang justru tumbuh 2,6%. Sebaliknya, varian premium seperti VSOP dan XO masing-masing turun 11,3% dan 12,9%.

Di Amerika Utara, pendapatan merosot 4,6% meski volume pengiriman sedikit naik. Eropa juga mencatat penurunan pendapatan 11%. Sebaliknya, pasar alternatif di luar AS dan China naik 19,9% secara volume, meski kontribusinya masih kecil, sekitar 17,5 juta botol.

Industri cognac, yang dipimpin oleh Hennessy (LVMH), Remy Martin, dan Martell (Pernod Ricard), kini berupaya mengurangi ketergantungan pada dua pasar utama dengan memperluas distribusi ke negara lain.


Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *