Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) diproyeksikan mampu menggerakkan perekonomian rakyat melalui berbagai layanan yang menyentuh langsung kebutuhan warga. Program ini sejalan dengan cita-cita pemerintah untuk memperkuat ekonomi dari tingkat desa dan kelurahan.
Menurut laman resmi merahputih.kop.id pada Jumat (22/8/2025), pembentukan KDMP dilakukan melalui tiga cara, yakni pendirian koperasi baru, pengembangan koperasi yang sudah ada, serta revitalisasi koperasi tidak aktif. Data Ditjen AHU Kemenkumham mencatat sebanyak 80.068 KDMP telah berbadan hukum.
Digitalisasi Pembukuan
Sejumlah kementerian terlibat dalam menyukseskan program ini, termasuk Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Lembaga tersebut memberikan pelatihan pembukuan digital bagi pengurus KDMP agar pengelolaan keuangan lebih transparan dan efisien.
Menteri Komdigi Meutya Hafid menyatakan, pencatatan digital akan mengurangi kesalahan transaksi sekaligus mempercepat layanan koperasi. Kota Malang dipilih sebagai proyek percontohan dengan melibatkan 15 KDMP, karena wilayah ini memiliki banyak UMKM yang sudah terbiasa memanfaatkan teknologi digital.
Model Bisnis dan Unit Usaha
Menteri Koperasi Budi Arie Setiadi menegaskan, setiap unit usaha KDMP dirancang sesuai kebutuhan masyarakat dan potensi lokal. Beberapa jenis usaha yang dikembangkan antara lain:
- Gerai sembako: menyediakan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau, termasuk hasil panen petani lokal.
- Klinik dan apotek desa: menghadirkan layanan kesehatan serta obat-obatan dengan harga ramah warga.
- Gerai simpan pinjam: memberi akses modal usaha berbasis simpanan anggota dengan prinsip saling menguatkan.
- Pergudangan dan logistik: mendukung penyimpanan serta distribusi hasil pertanian.
Peneliti Core Indonesia, Eliza Mardian, menilai KDMP berpotensi menguntungkan karena menyediakan kebutuhan dasar rumah tangga dengan harga lebih murah. Barang-barang yang dijual sebagian besar dipasok langsung dari BUMN, seperti beras dari Perum Bulog, LPG dari Pertamina Patra Niaga, dan pupuk dari PT Pupuk Indonesia.
Eliza memperkirakan keuntungan gerai sembako dapat mencapai sekitar Rp50 juta per tahun, sementara apotek desa bisa menghasilkan Rp30–60 juta per tahun, tergantung tata kelola dan transparansi koperasi.
Program KDMP diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan warga, tetapi juga memperkuat ekonomi lokal melalui usaha kolektif yang berkelanjutan.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.






