Selama bertahun-tahun, penggunaan pewarna makanan sintetis menjadi bagian penting dalam industri pangan. Namun, tren itu perlahan berubah. Setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) resmi melarang Red Dye No. 3 pada Januari lalu, kini pemerintah juga berencana menghentikan pemakaian pewarna berbahan dasar minyak bumi, seperti Yellow Dye 5 dan 6, pada akhir tahun depan.
Kebijakan ini merupakan bagian dari program pemerintah untuk menciptakan pola makan yang lebih sehat bagi masyarakat. Menurut Komisioner FDA, Marty Makary, generasi muda di Amerika selama puluhan tahun hidup dalam “lingkungan penuh bahan kimia sintetis” yang berdampak pada kesehatan.
Peralihan Menuju Pewarna Alami
Meski tidak berupa larangan total, FDA berharap industri makanan dapat secara sukarela menghapus pewarna sintetis dari produknya paling lambat 2026. Tekanan dari kelompok orang tua, aktivis, hingga sejumlah negara bagian yang sudah lebih dulu memberlakukan aturan serupa menjadi pendorong utama langkah ini.
Di Eropa, pembatasan penggunaan pewarna buatan bahkan telah berlangsung lebih lama. Uni Eropa selama dua dekade terakhir secara bertahap menghapus bahan pewarna artifisial dan mewajibkan label peringatan pada produk tertentu.
Kondisi ini membuka peluang besar bagi produsen pewarna alami. Perusahaan seperti Sensient, misalnya, memanfaatkan wortel dan kentang untuk menghasilkan warna merah dan ungu. Prosesnya dimulai dari panen, pencucian, pengolahan menjadi jus, hingga ekstraksi warna. Setelah itu, konsentrat distabilkan agar sesuai dengan kebutuhan industri.
Namun, tantangan terbesar adalah menciptakan warna alami yang setara dengan kecerahan warna sintetis. Menurut CEO Sensient, Paul Manning, warna yang kurang cerah bisa membuat produk gagal di pasaran karena konsumen sering menilai tampilan berpengaruh terhadap rasa.
Tantangan dan Biaya Produksi
Perusahaan lain seperti Fermantalg juga menemukan bahwa stabilitas warna sangat dipengaruhi proses sejak awal, mulai dari budidaya bahan baku hingga tahap ekstraksi. Hal ini menjadikan pengembangan pewarna alami lebih kompleks dibandingkan versi sintetis.
Dari sisi biaya, pewarna alami memang lebih mahal. Tetapi menurut sejumlah pakar, kontribusinya terhadap harga akhir produk sangat kecil karena penggunaannya hanya dalam jumlah sangat sedikit. “Seperti darah yang menetes di wastafel, sedikit warna bisa menyebar luas,” ujar salah satu peneliti.
Respon Industri Makanan
Bagi merek besar, perubahan ini menjadi langkah besar. WK Kellogg, produsen sereal ternama, telah berkomitmen menghapus FD&C colours dari produk yang dipasarkan di sekolah pada tahun ajaran 2026–2027. Perusahaan juga memastikan tidak akan merilis produk baru dengan pewarna sintetis mulai Januari 2026.
Tak hanya Kellogg’s, sejumlah raksasa makanan lain seperti Nestlé, Kraft Heinz, General Mills, dan Conagra juga sudah menyatakan komitmen untuk beralih ke pewarna alami.
Meski demikian, transisi ini bukan tanpa hambatan. Banyak pewarna alami tidak memiliki daya tahan panjang seperti pewarna sintetis, sehingga berpengaruh pada umur simpan produk. Renee Leber, ilmuwan pangan dari Institute of Food Technologists, memperingatkan adanya potensi “bottleneck” produksi karena permintaan pewarna alami meningkat drastis sementara pasokannya masih terbatas.
Namun, bagi perusahaan makanan, pilihan untuk tetap memakai bahan sintetis akan membuat mereka tertinggal dari pesaing yang lebih cepat beradaptasi. Oleh karena itu, meskipun waktunya singkat, mayoritas industri berusaha keras untuk segera menyesuaikan diri.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.
