Harga Es Krim Naik, Konsumen Jepang Kini Lebih Toleran terhadap Kenaikan Harga

kenaikan harga
Sumber Foto : Canva

Saat Akagi Nyugyo menaikkan harga es krim sebesar 10 yen pada 2016, manajemen perusahaan tampil dalam iklan berdurasi satu menit, menunduk diam disertai lagu sedih sebagai bentuk permintaan maaf. Namun, pendekatan mereka kini berubah. Dalam kampanye terbaru, produsen es krim asal Saitama itu tampil dengan gaya humor, berjanji akan menunduk semakin dalam pada setiap kenaikan harga berikutnya.

Perubahan pendekatan ini mencerminkan kondisi ekonomi Jepang yang berbeda. Setelah bertahun-tahun dilanda deflasi, banyak perusahaan kini merasa lebih leluasa menaikkan harga tanpa menghadapi reaksi keras dari publik.

Menurut Hideyuki Okamoto, kepala tim pemasaran Akagi Nyugyo, masyarakat Jepang kini lebih dapat menerima realitas harga yang meningkat. “Pandangan bahwa kenaikan harga adalah hal yang buruk mulai memudar,” ujarnya.

Kenaikan Upah Dorong Kepercayaan Diri Perusahaan

Fenomena ini didukung oleh peningkatan upah tertinggi dalam tiga dekade terakhir. Hal ini memberi ruang bagi pelaku usaha untuk menyesuaikan harga, sesuatu yang sebelumnya dihindari demi mempertahankan pelanggan.

Meski demikian, Bank of Japan belum mengubah suku bunga acuannya. Namun, jika tren ini berlanjut, ada kemungkinan bank sentral akan mempertimbangkan kenaikan suku bunga di masa mendatang.

Inflasi di Jepang telah berada di atas 2% selama tiga tahun terakhir, terutama karena kenaikan harga makanan. Pada Juli 2025, sekitar 200 produsen makanan utama diperkirakan akan menaikkan harga lebih dari 2.000 produk, dengan rata-rata kenaikan sebesar 15%, menurut survei lembaga riset swasta.

“Dulu, orang akan heboh kalau satu atau dua barang naik harga. Sekarang sudah ratusan, dan sulit untuk diingat semua,” kata Fusako Usuba, seorang pensiunan berusia 79 tahun.

Konsumen Mulai Beradaptasi, Tapi Ada Batasnya

Kenaikan harga yang semula dipicu gangguan rantai pasok global, konflik Ukraina, dan pelemahan yen, kini ditopang oleh sikap konsumen yang lebih terbuka terhadap inflasi. Profesor emeritus ekonomi Universitas Tokyo, Tsutomu Watanabe, menyebut bahwa masyarakat Jepang mulai mengubah fokus mereka dari mencari harga murah ke tuntutan kenaikan gaji.

Sebuah survei menunjukkan bahwa beberapa tahun lalu mayoritas konsumen Jepang akan berpindah toko jika harga naik 10%. Kini, banyak yang tetap berbelanja di tempat yang sama, mirip dengan perilaku konsumen di negara lain.

Namun, tantangan baru muncul. Meiji, produsen cokelat terbesar di Jepang, telah menaikkan harga sembilan kali sejak 2022 karena melonjaknya harga kakao. Pada Juni lalu, kenaikan harga sebesar 20% menyebabkan penurunan volume penjualan lebih dari 20% di beberapa toko.

“Kalau tren ini terus berlanjut, kami harus mengubah persepsi konsumen. Cokelat harus dilihat sebagai barang mewah, bukan komoditas biasa,” kata Akira Yoshida dari divisi pemasaran kakao Meiji.

Analis sektor pangan UBS Securities, Rei Ihara, mencatat bahwa ruang untuk kenaikan harga semakin terbatas. Pada 2024, porsi pengeluaran rumah tangga Jepang untuk makanan mencapai 28,3%, tertinggi dalam 43 tahun.

Kondisi ini diperparah oleh pertumbuhan upah riil yang negatif, menyebabkan ketidakpuasan publik dan kekalahan koalisi Perdana Menteri Shigeru Ishiba dalam pemilu parlemen baru-baru ini.

Di tengah ketidakpastian akibat tarif ekspor AS, banyak produsen Jepang memilih menahan harga di pasar internasional demi daya saing. Namun, strategi ini bisa berdampak pada kemampuan mereka menaikkan gaji pekerja di tahun mendatang.

“Kita sedang berada di momen penentu,” ujar Watanabe. “Jika momentum kenaikan harga yang didorong oleh kenaikan upah gagal dipertahankan, mungkin butuh waktu sangat lama sebelum peluang seperti ini muncul lagi.”


Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.

Sumber : reuters.com

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *