Robert Friedland, pengusaha tambang terkemuka asal Amerika Utara yang mendirikan Ivanhoe Mines dan Ivanhoe Electric, menyambut baik rencana penerapan tarif impor tembaga sebesar 50% oleh pemerintahan Presiden Donald Trump. Menurutnya, kebijakan ini menjadi langkah penting untuk menghidupkan kembali industri tambang AS yang selama ini tertinggal dari negara lain.
Presiden Trump sebelumnya telah memberlakukan tarif terhadap baja dan aluminium, dan kini kebijakan serupa akan diberlakukan untuk tembaga mulai 1 Agustus. Friedland menyebut kebijakan tersebut sebagai strategi nasional untuk memperkuat keamanan pasokan bahan baku dalam negeri, terutama karena tembaga memainkan peran penting dalam pembangunan infrastruktur, kendaraan listrik, dan teknologi hijau.
Lonjakan Permintaan Global dan Ancaman Kenaikan Harga
Saat ini, sekitar 50% kebutuhan tembaga Amerika Serikat masih dipenuhi melalui impor dari Meksiko, Chile, dan Kanada. Namun, negara tetangga seperti Kanada menentang keras kebijakan tarif ini. Menteri Industri Kanada Melanie Joly menegaskan bahwa pemerintah Kanada akan menentangnya secara total.
Sementara itu, lonjakan permintaan global terhadap tembaga — terutama dari China dan India — mendorong harga komoditas ini ke rekor tertinggi. Menurut Friedland, tren ini akan terus berlanjut mengingat kelangkaan pasokan. Hal ini sejalan dengan peringatan dari Badan Energi Internasional (IEA) bahwa pada 2035, permintaan tembaga global bisa melampaui pasokan hingga 30%.
Namun, para analis seperti Ewa Manthey dari ING Bank memperingatkan bahwa kenaikan harga tembaga dapat berdampak luas, seperti meningkatnya biaya konstruksi dan produksi, serta memperparah tekanan inflasi. Hal ini menjadi tantangan tambahan bagi bank sentral AS yang sedang berjuang untuk menurunkan inflasi ke level 2%.
Kapasitas Produksi AS Menurun, Proyek Baru Ditunggu
Meski masih memiliki cadangan tembaga yang besar, industri tambang AS kini jauh tertinggal dari Chile, Kongo, dan Peru. Jumlah smelter tembaga di AS terus menurun dari 11 pada 1997 menjadi hanya tiga saat ini, yang membuat Amerika harus mengirim tembaga mentah ke luar negeri untuk diproses. Di sisi lain, China kini menguasai 44% kapasitas pemurnian tembaga dunia.
Sebuah studi yang dilakukan Copper Development Association menyimpulkan bahwa peningkatan kapasitas pemrosesan dalam negeri sangat penting agar AS dapat memanfaatkan potensi cadangannya secara optimal.
Proyek tambang baru seperti Santa Cruz di Arizona — yang dikembangkan oleh Friedland — diharapkan mulai berproduksi pada 2028. Proyek ini disebut mampu menghasilkan tembaga berkualitas tinggi yang dapat langsung digunakan oleh industri teknologi, kendaraan listrik, dan pusat data tanpa harus melalui smelter tambahan. Menurut Friedland, dengan kehadiran perusahaan seperti TSMC dan Lucid Motors di Arizona, kemungkinan besar tembaga tersebut tidak akan keluar dari negara bagian itu.
Namun, sejumlah proyek tambang lain di AS masih terkendala proses perizinan dan tantangan hukum. Friedland meyakini bahwa dengan fokus Presiden Trump untuk mengembalikan lapangan kerja industri ke AS, permintaan terhadap bahan baku seperti tembaga akan terus meningkat.
Meski kebijakan tarif impor tembaga diklaim untuk alasan keamanan nasional, para ekonom seperti Adam Posen dari Peterson Institute for International Economics memperingatkan bahwa langkah ini berisiko mengorbankan efisiensi ekonomi secara luas.
“Untuk alasan keamanan nasional, mungkin kita rela mengorbankan sedikit efisiensi. Namun, biaya yang ditanggung masyarakat AS bisa sangat besar,” jelas Posen.
Kebijakan tarif ini menjadi titik balik penting bagi industri tambang AS, tetapi juga memunculkan tantangan baru dalam stabilitas ekonomi. Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.
Sumber : bbcnews.com
