Penjualan ritel Amerika Serikat mencatatkan peningkatan yang lebih tinggi dari perkiraan pada Juni 2025, menandakan adanya pemulihan moderat dalam aktivitas ekonomi. Kenaikan ini turut memberi ruang bagi Federal Reserve untuk menunda pemangkasan suku bunga sambil mencermati dampak inflasi akibat tarif impor. Penjualan ritel AS menjadi salah satu indikator utama kekuatan konsumsi domestik yang menopang perekonomian.
Peningkatan ini juga diperkuat oleh laporan dari Departemen Tenaga Kerja, yang menunjukkan penurunan klaim pengangguran mingguan ke posisi terendah dalam tiga bulan terakhir. Hal ini konsisten dengan pertumbuhan lapangan kerja yang stabil pada Juli, memperkuat pandangan bahwa kondisi ekonomi AS masih berada dalam jalur positif.
Detail Kinerja Penjualan Ritel Juni
Menurut Biro Sensus Departemen Perdagangan, penjualan ritel naik sebesar 0,6% pada Juni setelah mencatat penurunan 0,9% di bulan sebelumnya. Angka ini jauh melampaui prediksi ekonom yang hanya memperkirakan kenaikan sebesar 0,1%. Secara tahunan, penjualan meningkat 3,9%.
Sebagian dari kenaikan ini diperkirakan akibat harga yang lebih tinggi karena tarif, bukan karena peningkatan volume barang. Kategori seperti perlengkapan rumah tangga, mainan, dan peralatan olahraga mengalami kenaikan harga, yang diduga mendorong konsumen untuk segera membeli sebelum harga semakin naik.
Sektor otomotif memimpin pertumbuhan dengan kenaikan 1,2% dalam penjualan, meskipun volume penjualan kendaraan mengalami penurunan. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan harga turut menyumbang kenaikan nilai penjualan. Sektor lain yang juga mencatat peningkatan antara lain toko bahan bangunan dan taman (naik 0,9%), pakaian (naik 0,9%), serta penjualan online (naik 0,4%).
Namun, sektor elektronik dan perabot rumah tangga justru melemah, masing-masing turun 0,1%. Ini mengindikasikan bahwa kenaikan harga akibat tarif mulai menekan daya beli di segmen tertentu.
Pengaruh terhadap Kebijakan Moneter dan Konsumsi Rumah Tangga
Dengan kenaikan penjualan yang cukup luas, konsumsi rumah tangga diperkirakan tumbuh moderat di kuartal kedua, meski tidak signifikan dalam bentuk inflasi yang disesuaikan. Penjualan inti (tidak termasuk otomotif, bahan bakar, material bangunan, dan layanan makanan) naik 0,5% di Juni setelah direvisi turun menjadi 0,2% di Mei.
Estimasi pertumbuhan konsumsi masyarakat berada di bawah 1,5% secara tahunan, mencerminkan pelemahan sektor jasa seperti pariwisata. Meski demikian, Federal Reserve Atlanta memproyeksikan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) akan mencapai 2,4% pada kuartal kedua, setelah sebelumnya terkontraksi 0,5% di kuartal pertama. Sebagian besar dorongan ini berasal dari berkurangnya impor.
Stabilnya pasar tenaga kerja menjadi salah satu pilar konsumsi masyarakat. Klaim pengangguran awal turun 7.000 menjadi 221.000 untuk pekan yang berakhir pada 12 Juli — angka terendah sejak April. Angka ini berada di bawah ekspektasi ekonom yang memperkirakan 235.000 klaim.
Namun, tetap ada risiko yang membayangi. Ketidakpastian kebijakan dagang membuat perusahaan menahan ekspansi perekrutan, menyebabkan beberapa pekerja yang terkena PHK mengalami pengangguran lebih lama. Selain itu, pertumbuhan upah melambat, dan penurunan harga properti di sejumlah wilayah turut mengurangi kekayaan rumah tangga.
Kenaikan harga impor, khususnya dari Tiongkok, Jepang, dan Uni Eropa, juga menambah tekanan inflasi. Hal ini menandakan bahwa eksportir asing cenderung tidak menurunkan harga untuk menyerap tarif, sebagaimana ditunjukkan oleh kenaikan 0,1% pada indeks harga impor di Juni.
Data penjualan ritel dan klaim pengangguran terbaru menunjukkan bahwa ekonomi AS masih menunjukkan ketahanan, meski terdapat tekanan dari kebijakan perdagangan dan perlambatan belanja sektor jasa. Federal Reserve diperkirakan tetap menahan suku bunga acuan sambil menunggu arah inflasi dan konsumsi lebih lanjut.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.
Sumber : reuters.com






