Kinerja keuangan Conagra mendapat tekanan berat akibat lonjakan biaya tarif impor atas bahan baku dan produk dari Tiongkok serta logam, termasuk baja kaleng yang digunakan dalam produk makanan kaleng seperti saus tomat Hunt’s. Perusahaan makanan asal Amerika Serikat ini memproyeksikan laba tahunan yang lebih rendah dari estimasi analis, mencerminkan dampak nyata dari kebijakan tarif Presiden Donald Trump yang berubah-ubah.
Dalam laporan terbarunya, Conagra memperkirakan beban biaya pokok penjualan akan meningkat sekitar 7% sepanjang tahun fiskal ini, dengan sekitar 3% di antaranya berasal dari pengaruh tarif.
Penurunan Penjualan dan Strategi Penyesuaian
Saham Conagra sempat turun hingga 7,6% setelah laporan keuangan dirilis, meski akhirnya pulih sebagian. Perusahaan juga mencatat penurunan penjualan sebesar 4,3% menjadi USD 2,78 miliar pada kuartal keempat, lebih rendah dari estimasi pasar sebesar USD 2,83 miliar. Laba per saham disesuaikan juga meleset dari ekspektasi, yaitu hanya sebesar 56 sen, atau kurang 2 sen dari prediksi analis.
CEO Conagra, Sean Connolly, menjelaskan bahwa tekanan inflasi dan ketidakpastian ekonomi telah membuat konsumen semakin fokus pada produk dengan harga terjangkau. Untuk mengimbangi tekanan biaya tarif impor, perusahaan akan menjalankan sejumlah langkah seperti efisiensi biaya, mencari alternatif sumber bahan baku, dan melakukan penyesuaian harga secara selektif.
“Kenaikan harga ini bersifat minimal, hanya beberapa sen, dan hanya berlaku untuk produk yang terdampak langsung oleh inflasi akibat tarif,” ujar Connolly.
Dampak Tarif terhadap Produk Kaleng
Produk makanan kaleng menjadi lini yang paling terdampak karena bahan seperti baja kaleng mengalami keterbatasan pasokan domestik dan dikenai tarif hingga 50%. Selain itu, Conagra juga mencatat tarif 30% atas beberapa produk dari Tiongkok dan tarif timbal balik sebesar 10% dari sejumlah negara lainnya.
Perusahaan yang dikenal dengan produk camilan Slim Jim ini memperkirakan laba per saham yang disesuaikan berada di kisaran USD 1,70 hingga USD 1,85 untuk tahun ini. Angka ini jauh di bawah rata-rata estimasi analis yang sebesar USD 2,19, berdasarkan data dari LSEG.
Analis RBC Capital Markets, Nik Modi, menilai bahwa penyesuaian proyeksi laba memang diperlukan mengingat kondisi pasar saat ini, namun belum dapat dipastikan apakah pemangkasan tersebut sudah cukup.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.
Sumber : reuters.com
