Saham beberapa produsen pakaian mengalami kenaikan pada Rabu (8/7), setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan kesepakatan dagang baru dengan Vietnam. Dalam kesepakatan tersebut, tarif impor Vietnam ditetapkan sebesar 20%, jauh lebih rendah dibandingkan tarif awal sebesar 46% yang pernah diumumkan pada April lalu.
Bagi industri mode dan alas kaki, kabar ini menjadi angin segar. Selama beberapa tahun terakhir, banyak perusahaan seperti Nike dan Levi Strauss mengalihkan produksi dari Tiongkok ke negara-negara Asia Tenggara seperti Vietnam, Kamboja, dan Indonesia. Langkah ini diambil untuk menghindari lonjakan biaya akibat kebijakan tarif saling balas yang sempat dicanangkan pemerintahan Trump.
Kebijakan tarif yang berubah-ubah ini sebelumnya mempersulit proyeksi keuangan para produsen pakaian. Namun, sejumlah analis menyebut bahwa kejelasan terbaru mengenai tarif impor Vietnam memberi ruang bagi perusahaan untuk menyusun strategi bisnis yang lebih stabil. “Tari-menari tarif selama ini menjadi isu utama yang membebani investor dan pelaku usaha,” ujar Simeon Siegel dari BMO Capital Markets.
Reaksi Pasar dan Dampak Industri
Trump menyebut bahwa kesepakatan ini juga mencakup tarif 40% untuk barang trans-shipment dari negara ketiga, serta pembukaan akses pasar AS di Vietnam tanpa tarif balasan. Saham Nike tercatat naik 4%, disusul Under Armour yang naik 2%, dan Levi Strauss hampir 2%. Saham Abercrombie & Fitch juga menguat meski tidak signifikan, sementara On Holding yang didukung Roger Federer mencatat kenaikan 3%.
Menurut David Swartz dari Morningstar Research, investor menanggapi kesepakatan ini sebagai sinyal bahwa tarif yang sebelumnya mengancam Vietnam kemungkinan akan dibatalkan. Namun demikian, Vietnam tetap menjadi pemasok utama alas kaki ke AS. Data menunjukkan bahwa lebih dari 50% impor sepatu olahraga di 2024 berasal dari negara tersebut.
CEO Asosiasi Distributor dan Ritel Alas Kaki AS (FDRA), Matt Priest, mengkritisi tarif baru ini. Ia menyebut bahwa banyak produk alas kaki sudah dikenai tarif 20%, dan menambahkan beban baru dianggap sebagai kebijakan yang tidak efisien. “Kita seharusnya tidak memperparah situasi dengan tarif tambahan yang hanya akan membebani konsumen dan bisnis,” tegasnya.
Dampak pada Elektronik dan Best Buy
Tidak hanya produsen pakaian, ritel elektronik seperti Best Buy juga terdampak. Meski saham Best Buy hanya naik tipis, analis Wedbush Securities, Matthew McCartney, menilai bahwa kejelasan tarif ini mengurangi risiko bagi sektor elektronik yang mengandalkan Vietnam sebagai pusat produksi. “Trans-shipment memang jadi tantangan, tapi rantai pasok kemungkinan akan segera beradaptasi,” ungkapnya.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.
Sumber : reuters.com






