Popularitas sandal Kolhapuri mendadak melonjak setelah merek fashion mewah Prada memicu kontroversi di Milan dengan memamerkan desain sandal yang mirip buatan pengrajin India tanpa menyebut asal-usulnya. Kejadian ini justru membuka peluang baru bagi para pelaku kerajinan tradisional India yang selama ini kesulitan menjangkau pasar global.
Sandal Kolhapuri merupakan alas kaki etnik yang berasal dari kota Kolhapur di negara bagian Maharashtra, India, dan telah dibuat sejak abad ke-12. Rancangan Prada yang menyerupai bentuk asli Kolhapuri menjadi viral dan menuai kritik di media sosial. Desakan publik membuat Prada akhirnya mengakui bahwa desainnya memang terinspirasi dari budaya India, bahkan berencana menggandeng produsen lokal untuk kolaborasi jika sandal tersebut dijual secara komersial.
Lonjakan Penjualan dan Nasionalisme Digital
Efek domino dari kontroversi tersebut memicu sentimen kebanggaan nasional di India. Dalam tiga hari, penjualan sandal Kolhapuri yang dipasarkan oleh situs e-commerce Shopkop mencapai 50.000 rupee atau sekitar $584, lima kali lipat dari rata-rata biasanya. Pendiri Shopkop, Rahul Parasu Kamble, menyebut peristiwa ini sebagai momentum untuk mengangkat kembali nilai budaya dan pasar kerajinan tradisional India.
Tak hanya Shopkop, brand lokal lainnya seperti Ira Soles dan Niira juga memanfaatkan momen ini. Mereka meluncurkan kampanye iklan media sosial dengan pesan-pesan promosi yang menyandingkan sandal buatan lokal dengan eksposur global yang diberikan Prada. Bahkan, diskon hingga 50% ditawarkan demi menarik konsumen untuk memiliki sandal Kolhapuri yang kini disebut “ikon gaya dunia”.
Harapan Baru Bagi Pengrajin Lokal
Meskipun pasar produk mewah India tergolong kecil, perhatian terhadap sandal Kolhapuri memberi harapan besar bagi ribuan pengrajin. Sekitar 7.000 pembuat sandal ini tersebar di berbagai wilayah, banyak di antaranya masih memproduksi secara manual di pabrik-pabrik kecil. Mereka mengeluhkan persaingan dengan produk modern yang lebih modis dan bernilai tinggi.
Salah satu pengrajin, Ashok Doiphode (50), masih menjahit sandal secara tradisional selama sembilan jam sehari dan hanya menjual sepasang seharga 400 rupee (sekitar $5). Ia berharap kolaborasi dengan merek besar seperti Prada bisa membuka jalan bagi peningkatan pendapatan dan apresiasi terhadap keterampilan lokal.
Presiden asosiasi industri utama di Maharashtra, Lalit Gandhi, juga menyambut baik peluang kerja sama ini. Ia tengah menjajaki kemungkinan merilis edisi terbatas sandal Kolhapuri hasil kolaborasi dengan Prada. Pemerintah India pun sebelumnya menyatakan bahwa potensi ekspor sandal ini bisa mencapai $1 miliar per tahun.
Momen Kolhapuri ini menjadi bukti bahwa warisan budaya dapat bersinar kembali lewat sorotan global. Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.
Sumber : retuers.com






