Serangan siber perusahaan terus meningkat dan kini mengancam stabilitas operasional banyak bisnis di Inggris. Dalam laporan terbaru Royal Institution of Chartered Surveyors (RICS), terungkap bahwa banyak perusahaan berada dalam bayang-bayang risiko digital gedung pintar karena belum mengambil langkah pengamanan yang memadai.
Ancaman Siber Semakin Nyata
Hasil survei terhadap manajer fasilitas, penyedia layanan, dan konsultan menunjukkan bahwa 27% perusahaan di Inggris mengalami serangan siber perusahaan dalam 12 bulan terakhir. Angka ini meningkat tajam dari 16% pada tahun sebelumnya.
Lebih dari 8.000 pemimpin bisnis juga menyatakan kekhawatirannya, dengan 73% di antaranya memperkirakan adanya gangguan siber terhadap perusahaan mereka dalam 12 hingga 24 bulan ke depan. RICS menekankan bahwa risiko digital gedung pintar menjadi ancaman yang tidak bisa diabaikan.
Sistem Bangunan yang Usang Jadi Celah Keamanan
Salah satu dampak nyata dari lemahnya pertahanan digital adalah kasus Marks & Spencer. Perusahaan ini terpaksa menghentikan pemesanan online selama hampir tujuh minggu karena serangan siber besar-besaran, yang menyebabkan penurunan penjualan pakaian hingga 20% dalam satu bulan. Peristiwa ini membuat mereka kehilangan pangsa pasar dari pesaing seperti Next, Zara, dan H&M.
Menurut RICS, celah serangan juga berasal dari sistem operasional bangunan yang sudah ketinggalan zaman. Contohnya, gedung yang dibuka pada 2013 mungkin masih menggunakan Windows 7—sistem yang sudah tidak lagi mendapatkan pembaruan keamanan dari Microsoft selama lebih dari lima tahun.
Kompleksitas Teknologi Gedung dan Potensi Risikonya
Paul Bagust, Kepala Divisi Praktik Properti RICS, mengatakan bahwa bangunan masa kini telah berevolusi menjadi sistem digital yang kompleks dan terhubung. Dengan penggunaan teknologi seperti sistem manajemen gedung, CCTV, Internet of Things, dan kontrol akses otomatis, efisiensi meningkat—namun celah keamanannya juga meluas.
Bagust menyatakan bahwa risiko digital gedung pintar muncul seiring meningkatnya pengumpulan dan penggunaan data untuk pengambilan keputusan. “Gagal memahami ancaman ini dan mengabaikan perlindungan digital sama saja dengan membiarkan bisnis masuk ke dalam jerat serangan siber perusahaan tanpa disadari,” katanya.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.
Sumber : theguardian.com






