Chief Executive Sainsbury’s, Simon Roberts, mengimbau pemerintah Inggris agar berhati-hati dalam menambah beban pajak kepada pelaku industri ritel. Ia menyoroti dampak kenaikan pajak yang signifikan, terutama terhadap lapangan kerja, akibat perubahan kontribusi asuransi nasional (national insurance) yang mulai berlaku tahun ini.
Pemerintah tengah menghadapi tekanan untuk mencari tambahan dana menjelang anggaran musim gugur guna memperbaiki layanan publik dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, Roberts menegaskan perlunya mempertimbangkan beban yang sudah ditanggung oleh sektor ritel Inggris saat ini.
Beban Biaya Tambahan dan Ancaman terhadap Lapangan Kerja
Sejak pengumuman anggaran musim gugur lalu, para pelaku industri ritel telah memperingatkan bahwa kebijakan kenaikan kontribusi asuransi nasional sebesar £25 miliar, serta peningkatan upah minimum nasional sebesar 6,7% mulai April, dapat berdampak pada kenaikan harga barang. Roberts menyampaikan bahwa perubahan ini akan menambah beban biaya sebesar £140 juta bagi Sainsbury’s tahun ini, belum termasuk pajak kemasan baru yang diperkirakan mencapai £55 juta.
Di tengah wacana pemerintah menaikkan tarif business rates untuk properti ritel besar, Roberts menyebut pajak tersebut tidak adil dan berpotensi mengganggu keberlangsungan lapangan kerja. “Kita harus memastikan tidak ada dampak pajak tambahan lagi terhadap sistem ini,” ujarnya.
Kinerja Sainsbury’s Tetap Tangguh di Tengah Tekanan
Meski menghadapi tekanan biaya, Sainsbury’s tetap mencatat pertumbuhan penjualan yang kuat. Dalam tiga bulan hingga 21 Juni, penjualan total grup naik 4,9%, didorong oleh peningkatan tajam di unit Argos sebesar 4,4%—tertinggi dalam dua tahun terakhir—karena tingginya permintaan produk musim panas seperti kolam tiup dan kipas angin.
Penjualan pakaian juga meningkat berkat cuaca hangat, dan produk makanan premium tetap diminati. Meski begitu, penjualan bahan bakar menurun akibat turunnya harga. Sainsbury’s juga mendapat keuntungan kecil dari gangguan siber yang melanda Marks & Spencer dan Co-op, yang sempat mengganggu ketersediaan produk mereka.
Roberts menegaskan bahwa Sainsbury’s berhasil tumbuh lebih cepat dari pasar selama tiga tahun berturut-turut dan optimistis menghadapi musim panas. Ia menambahkan bahwa inflasi pada komoditas seperti daging sapi dan kakao serta kebijakan pajak akan menjadi faktor penting yang memengaruhi kinerja ke depan.
Persaingan dan Strategi Harga di Pasar Ritel Inggris
Menurut analis Aarin Chiekrie dari Hargreaves Lansdown, Sainsbury’s kini memiliki pangsa pasar tertinggi dalam satu dekade terakhir, meskipun Asda terus mencoba merebut kembali konsumen. Ia menyatakan bahwa hingga saat ini, belum terlihat tanda-tanda perang harga besar-besaran antar peritel besar.
Meskipun mencatat pertumbuhan positif, perusahaan belum merevisi target laba tahunan yang diperkirakan masih sekitar £1 miliar. Ini menunjukkan bahwa Sainsbury’s masih menyiapkan ruang untuk pemotongan harga lanjutan guna mempertahankan daya saing.
Sainsbury’s juga terus mengurangi biaya operasional dengan memperluas penggunaan mesin kasir mandiri dan sistem SmartShop yang memungkinkan pelanggan memindai barang secara langsung. Upaya efisiensi ini ditargetkan menghemat biaya hingga £1 miliar pada Maret 2027.
Kondisi industri ritel Inggris saat ini sedang diuji oleh kebijakan fiskal dan dinamika pasar. Pemerintah diharapkan mempertimbangkan dampak jangka panjang dari setiap kebijakan kenaikan pajak yang bisa memengaruhi daya saing dan ketenagakerjaan sektor ini.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.
Sumber : theguardian.com






