Pasar Saham Asia Menguat di Awal Pekan Berkat Sentimen Dagang Positif

pasar saham Asia
Sumber Foto : Freepik

Pasar saham Asia dibuka menguat pada awal pekan ini, Senin (30/6/2025). Kenaikan ini dipicu oleh menguatnya sentimen dagang global dan reli bursa saham Amerika Serikat. Investor terlihat lebih percaya diri terhadap aset berisiko.

Mengutip Bloomberg, indeks MSCI Asia-Pacific naik 0,3% saat perdagangan dibuka. Di Jepang, indeks Topix meningkat 0,75% ke level 2.861,96. Kenaikan ini terjadi setelah negosiator utama Tokyo memperpanjang kunjungannya ke AS menjelang tenggat 9 Juli.

Indeks Kospi Korea Selatan juga naik 0,89% ke posisi 3.083,10. Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 Australia tercatat naik 0,21% ke angka 8.531,70.

Kontrak berjangka indeks S&P 500 dan Nasdaq 100 masing-masing menguat 0,3%. Di sisi lain, indeks dolar AS melemah 0,1%. Penurunan ini terjadi di tengah pembahasan RUU pemangkasan pajak senilai US$4,5 triliun oleh Senat AS.

Optimisme Pasar Didukung Meredanya Risiko Global

Pada Jumat (27/6/2025), bursa saham AS mencetak rekor tertinggi sejak Februari. Ini menunjukkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap kondisi ekonomi meskipun kebijakan pemerintah masih berubah-ubah.

Langkah Presiden Donald Trump yang menunda tarif atas banyak negara sejak April lalu turut memberi dorongan pada pasar. Di Asia, indeks regional diperkirakan naik lebih dari 4% untuk bulan kedua secara beruntun. Hal ini terjadi karena pelaku pasar mulai mengabaikan ketegangan geopolitik dan risiko tarif.

Chris Weston dari Pepperstone Group menyebut pasar saat ini sedang berada dalam kondisi yang hampir ideal. Menurutnya, harapan akan tercapainya kesepakatan dagang ikut mendorong minat terhadap aset berisiko.

Delegasi dagang India juga memperpanjang masa tinggal di Washington. Mereka berupaya menyelesaikan perbedaan sebelum tenggat 9 Juli. Meski Trump menegaskan tidak akan memperpanjang tenggat waktu, pasar tetap berharap tercapainya kesepakatan.

Namun, analis seperti Kyle Rodda dari Capital.com memperingatkan potensi pembalikan arah. Jika negosiasi gagal, pasar bisa bereaksi negatif. Sebaliknya, jika tarif diturunkan, penguatan saham bisa berlanjut.

Investor Fokus pada Data Ekonomi dan RUU Pajak

Penurunan inflasi di AS dan membaiknya prospek perdagangan telah memperkuat sentimen pasar. Sepanjang kuartal ini, indeks S&P 500 naik 10%. Kenaikan ini menjadi yang keenam dalam tujuh kuartal terakhir. Di saat yang sama, indeks dolar AS turun 6,3%. Ini menjadi penurunan kuartalan terbesar sejak akhir 2022.

Strategi Goldman Sachs mengingatkan bahwa situasi Timur Tengah masih bisa memicu ketidakpastian. Namun, selama skenario terburuk tidak terjadi, pasar diyakini akan tetap naik.

Di Kongres, RUU pemangkasan pajak dari Trump masih dibahas. Partai Republik berusaha menggalang dukungan untuk mengesahkannya. Menurut CBO, RUU ini bisa menambah defisit anggaran AS hingga US$3,3 triliun dalam 10 tahun.

Sementara itu, pelaku pasar juga menunggu data PMI manufaktur dan nonmanufaktur China. Data ini akan menunjukkan dampak perang dagang terhadap ekonomi China. Analis memperkirakan pesanan ekspor baru dapat meningkat usai gencatan dagang antara AS dan China pada Mei lalu.


Penutup

Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *