Meta Platforms Inc. kembali menjadi sorotan. Perusahaan teknologi ini dilaporkan berhasil merekrut empat peneliti AI OpenAI. Langkah ini disebut sebagai bagian dari strategi agresif pengembangan superintelijen Meta yang dipimpin CEO Mark Zuckerberg.
Berdasarkan laporan The Information yang dikutip dari Reuters (30/6/2025), empat peneliti tersebut adalah Shengjia Zhao, Jiahui Yu, Shuchao Bi, dan Hongyu Ren. Mereka dikabarkan sudah menerima tawaran untuk bergabung dengan Meta. Informasi ini disampaikan oleh sumber yang mengetahui proses rekrutmen.
Sebelumnya, Meta juga disebut telah merekrut tiga peneliti AI dari kantor OpenAI di Zurich. Mereka adalah Lucas Beyer, Alexander Kolesnikov, dan Xiaohua Zhai.
Sam Altman Kritik Strategi Meta
Meta dan OpenAI belum memberikan pernyataan resmi soal kabar ini. Namun, CEO OpenAI Sam Altman sudah pernah menyinggung upaya agresif Meta. Ia mengatakan Meta berusaha menarik peneliti AI OpenAI dengan iming-iming tawaran besar.
Dalam podcast bersama saudaranya Jack Altman (17 Juni lalu), Altman mengungkap bahwa Meta menawarkan bonus senilai lebih dari US$100 juta atau sekitar Rp1,6 triliun per orang. Menurutnya, tawaran tersebut juga disertai total kompensasi tahunan yang sangat besar.
“Meta memberikan penawaran sangat besar kepada banyak anggota tim kami. Tapi sejauh ini, saya bersyukur tidak satu pun dari talenta terbaik kami yang menerimanya,” ujar Altman, dikutip dari TechCrunch (19/6/2025).
Altman menyebut banyak staf memilih bertahan karena percaya pada visi OpenAI. Ia menilai budaya inovasi menjadi kekuatan utama perusahaan. Altman juga menyindir Meta yang dinilai terlalu fokus pada gaji tinggi, bukan pada misi jangka panjang. Hal ini menurutnya bisa berdampak buruk pada budaya kerja internal.
Ambisi Meta dan Persaingan di Dunia AI
Meski dikritik, Meta terus memperkuat tim AI-nya. Perusahaan ini sudah merekrut nama-nama besar seperti Jack Rae (eks Google DeepMind) dan Johan Schalkwyk (eks Sesame AI). Meta juga berinvestasi besar di Scale AI, perusahaan yang sebelumnya dipimpin oleh Alexandr Wang. Wang kini memimpin tim superintelijen Meta.
Namun, Meta masih harus bersaing ketat dengan OpenAI, Anthropic, dan Google DeepMind. Ketiganya dinilai lebih unggul dalam pengembangan AI mutakhir.
Sementara itu, OpenAI tengah mengembangkan model AI open-source baru. Langkah ini berpotensi membuat Meta semakin tertinggal.
Selain itu, Altman mengungkap bahwa OpenAI sedang menjajaki pengembangan aplikasi media sosial berbasis AI. Aplikasi ini akan menyajikan konten yang benar-benar sesuai dengan preferensi pengguna. Konsepnya berbeda dari feed algoritmik di Instagram atau Facebook.
Di sisi lain, Meta juga sedang menguji aplikasi serupa lewat Meta AI. Namun, uji coba tersebut sempat menuai kontroversi. Beberapa percakapan pribadi pengguna dengan chatbot Meta dikabarkan tersebar ke publik.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.
