Ekspor China ke Inggris menunjukkan peningkatan signifikan pada Mei lalu, memicu kekhawatiran akan membanjirnya produk murah ke pasar domestik. Berdasarkan data resmi dari pemerintah Tiongkok, pengiriman barang ke Inggris naik 16,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak Februari 2022.
Kenaikan ini dinilai bisa menjadi sinyal awal percepatan impor ke Inggris, melampaui laju peningkatan tahunan 10% yang tercatat oleh Kantor Statistik Nasional Inggris (ONS) pada April. Beberapa analis menduga lonjakan tersebut merupakan dampak dari kebijakan tarif tinggi Amerika Serikat terhadap barang dari China, yang mendorong produsen Tiongkok mencari pasar alternatif.
Dampak terhadap Inflasi dan Industri Lokal
Kebijakan dagang AS yang memberlakukan tarif hingga 30% terhadap produk China membuat ekspor ke AS anjlok hingga 34% pada Mei. Tekanan ini mendorong pelaku usaha China untuk mengalihkan distribusi, termasuk ke Inggris, atau melalui negara transit seperti Vietnam dan Kamboja.
Bank of England memandang masuknya produk murah dari China sebagai faktor potensial yang dapat menekan inflasi dalam waktu dekat. Sanjay Raja, ekonom senior Deutsche Bank, menyebut bahwa keterlambatan pengiriman bisa menjadikan data Mei sebagai permulaan dari tren yang lebih besar. “Ini bisa berdampak besar pada inflasi ke depan,” ujarnya.
Meski demikian, sektor industri di Inggris justru menyuarakan kekhawatiran. Mereka takut produk murah tersebut akan membanjiri pasar dan merugikan produsen lokal. Kekhawatiran khusus datang dari industri baja.
Respons Pemerintah Inggris
Pemerintah Inggris telah mengambil langkah antisipatif. Menteri Bisnis Jonathan Reynolds mendukung rekomendasi Otoritas Remedi Perdagangan Inggris, termasuk pembatasan ketat atas kuota impor untuk mencegah masuknya baja murah dari Tiongkok.
Gareth Stace, Direktur Jenderal UK Steel, menyambut baik langkah tersebut. Ia menilai kebijakan itu penting untuk melindungi industri baja dalam negeri dari praktik dumping yang tidak berkelanjutan.
Sementara itu, Menteri Keuangan Rachel Reeves menyatakan akan meninjau kembali kebijakan bea masuk untuk barang bernilai di bawah £135—yang kerap dimanfaatkan oleh platform seperti Shein dan Temu—guna menghindari celah pajak atas produk impor murah.
Neil Shearing, Kepala Ekonom Capital Economics, menyebut fenomena ini sebagai “pedang bermata dua”. Di satu sisi, harga barang impor yang lebih murah dapat membantu konsumen. Namun di sisi lain, hal ini memicu persaingan ekstrem yang bisa melemahkan pelaku usaha lokal.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.
Sumber : theguardian.com
