Perubahan cuaca yang semakin tidak menentu kembali berdampak pada sektor peternakan, khususnya peternakan ayam petelur. Di Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel), produksi telur dilaporkan mengalami penurunan hingga 15% akibat suhu panas yang ekstrem. Kondisi ini diungkapkan oleh Ketua Asosiasi Peternak Unggas Sumsel, Ismaidi Chaniago, yang menyebutkan bahwa penurunan produksi ini bukan pertama kali terjadi, melainkan tantangan tahunan yang terus dihadapi para peternak.
Salah satu pengusaha peternakan ayam petelur di daerah tersebut, Ruli, juga mengonfirmasi fenomena tersebut. Ia menyebut bahwa perubahan iklim yang tidak stabil mengharuskan peternak berinovasi dalam menjaga output produksi, baik untuk ayam petelur maupun ayam pedaging.
Kandang Close, Solusi Efisien dan Tahan Cuaca
Sebagai strategi adaptasi, modernisasi kandang ayam kini menjadi solusi yang semakin populer. Salah satunya adalah penggunaan kandang close house, atau kandang tertutup, yang dinilai lebih efektif dibanding kandang konvensional terbuka.
“Teknologi kandang tertutup sebenarnya bukan hal baru, tapi baru beberapa tahun terakhir ini banyak digunakan. Dari pengalaman, kandang close lebih menjanjikan dari sisi keuntungan,” ujar Ruli.
Menurutnya, kelembapan tinggi pada kandang terbuka menjadi kendala utama. Padahal, baik ayam petelur maupun broiler memerlukan suhu yang stabil untuk tumbuh optimal. Dengan kandang close house, suhu dan kelembapan bisa dikendalikan menggunakan sistem ventilasi otomatis. Hal ini membuat ayam lebih nyaman dan produksi telur tetap tinggi meskipun cuaca ekstrem melanda.
Selain lebih stabil secara iklim, kandang modern juga dinilai lebih hemat tempat. Kapasitasnya bervariasi, bahkan satu unit bisa menampung antara 30.000 hingga 50.000 ekor ayam.
Investasi Awal yang Setimpal dengan Efisiensi Operasional
Meskipun modernisasi kandang ayam membutuhkan investasi awal yang cukup besar, banyak keuntungan jangka panjang yang bisa diperoleh. Sayangnya, hingga kini penerapannya masih tergolong rendah. Ruli memperkirakan baru sekitar 20% peternak di Sumsel yang beralih ke kandang close house. Hal ini disebabkan kekhawatiran terhadap biaya pembangunan kandang modern yang dianggap tinggi.
Namun menurutnya, jika dihitung secara keseluruhan, potensi kerugian akibat gangguan cuaca dan penyakit bisa ditekan secara signifikan dengan sistem kandang modern. Bahkan, penggunaan tenaga kerja pun bisa lebih efisien karena sistem otomatis yang mendukung pengelolaan kandang.
“Upaya awal memang cukup besar, tetapi dari segi efisiensi, operasional lebih ringan, risiko penyakit berkurang, dan produktivitas meningkat,” tambah Ruli.
Modernisasi kandang ayam bukan hanya solusi untuk menghadapi cuaca ekstrem, tetapi juga strategi jangka panjang bagi keberlanjutan peternakan. Dengan penerapan teknologi yang tepat, sektor peternakan dapat tetap produktif dan efisien meski di tengah tantangan iklim yang makin sulit diprediksi.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.
Sumber : bisnis.com
