Piala Dunia Antarklub 2025 yang digelar FIFA di Amerika Serikat pada Minggu, 15 Juni 2025, menghadirkan banyak kontroversi. Berbeda dari format sebelumnya yang hanya mengikutsertakan juara dari masing-masing konfederasi, kali ini 32 klub elit dunia berpartisipasi. Presiden FIFA, Gianni Infantino, mengatakan penambahan peserta bertujuan menciptakan kompetisi lebih seimbang. Selain itu, format baru ini menarik bagi penyiar dan sponsor. FIFA juga ingin mempromosikan Amerika Serikat sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026. Turnamen ini sekaligus dimanfaatkan untuk mengoptimalkan potensi bisnis sepak bola.
Namun, kenyataannya tidak sesuai harapan. Laga pembuka antara Inter Miami dan Al Ahly mendapat respons minim dari penonton. Tiket awalnya dijual sekitar 100 dolar AS (Rp1,6 juta), lalu dipangkas menjadi 55 dolar AS (sekitar Rp892 ribu). Minat tetap rendah. FIFA menawarkan paket khusus untuk mahasiswa dengan harga tiket 20 dolar AS (sekitar Rp325 ribu) dan kesempatan mendapatkan 4 tiket gratis. Artinya, penonton hanya perlu membayar sekitar 4 dolar AS untuk menyaksikan pertandingan dengan megabintang Lionel Messi.
Kritik Pemain dan Dampak pada Jadwal Kompetisi
Format baru dengan 32 tim membuat durasi turnamen jadi lebih panjang. Hal ini memicu kritik keras dari para pemain. Gelandang Belgia, Kevin De Bruyne, memilih memboikot Piala Dunia Antarklub 2025. Ia menilai turnamen itu membebani pemain karena waktu istirahat sangat singkat. “Kami hanya punya tiga minggu antara final Piala Dunia Antarklub dan pertandingan pertama Liga Primer Inggris. Kami harus beristirahat dan bersiap menghadapi 80 pertandingan lagi,” katanya. Menurut De Bruyne, keputusan FIFA lebih dipengaruhi kepentingan finansial daripada suara pemain.
Presiden LaLiga, Javier Tebas, juga mengecam turnamen ini. Ia menilai Piala Dunia Antarklub mengacaukan kalender kompetisi dan tidak memberikan nilai ekonomi maupun kualitas pertandingan yang layak. Tebas menyoroti keikutsertaan Real Madrid dan Atletico Madrid. Jika kedua klub ini maju jauh, jadwal liga domestik akan terganggu. “Jika mereka mencapai semifinal, hadiah uang bisa mencapai 100 juta euro, jumlah yang sangat besar dan tidak diperoleh klub lain. Ini merusak kompetisi,” tegas Tebas.
Cuaca Panas Jadi Kendala di Lapangan
Selain jadwal padat, kondisi cuaca juga menjadi masalah. Marcos Llorente dari Atletico Madrid mengeluhkan panas terik saat melawan PSG pada Senin (16/6/2025) pukul 12.00 siang waktu AS. “Sangat sulit bermain dengan cuaca seperti itu. Kuku jempol kaki saya sampai terasa sakit akibat panas. Saya tidak bisa berlari dengan baik,” katanya. Pelatih PSG, Luis Enrique, juga mengakui bahwa suhu panas mempengaruhi performa tim. “Jam pertandingan bagus untuk penonton di Eropa, tapi kedua tim menderita dan tidak bisa tampil optimal selama 90 menit,” ungkap Enrique usai laga.
Piala Dunia Antarklub 2025 menunjukkan bahwa perlu keseimbangan antara pengembangan turnamen dan perhatian terhadap kesehatan pemain serta jadwal kompetisi. Kritik dari para pemain dan stakeholder liga menjadi peringatan penting agar sepak bola global tetap terjaga kualitas dan kelangsungannya.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.
Sumber : bisnis.com
