Kekurangan air Inggris menjadi isu yang semakin serius di tengah pertumbuhan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI). Pusat data yang digunakan untuk mendukung AI ternyata menyerap air dalam jumlah sangat besar untuk mendinginkan server, namun penggunaannya belum tercatat secara resmi oleh otoritas lingkungan.
Environment Agency (EA) memperingatkan bahwa Inggris bisa menghadapi kekurangan air hingga 5 miliar liter per hari pada 2055. Jika tidak ada tindakan nyata, krisis ini dapat memengaruhi pasokan untuk rumah tangga, industri, dan sektor pertanian. Tambahan defisit 1 miliar liter per hari juga diprediksi terjadi di sektor energi dan teknologi, meski itu belum termasuk konsumsi air dari pusat data AI.
Menurut sumber internal EA, kebanyakan data center masih memakai pasokan dari jaringan air publik. Tanpa kewajiban pelaporan, penggunaan air mereka sulit dilacak. Hal ini membuat proyeksi jangka panjang tentang kekurangan air Inggris menjadi tidak akurat.
Kurangnya Transparansi Konsumsi Air Data Center
Pertumbuhan industri AI dinilai sebagai salah satu faktor terbesar perubahan kebutuhan air dalam beberapa tahun terakhir. Sistem pendingin di pusat data, seperti menara pendingin dan sirkulasi udara luar, memerlukan air bersih dalam jumlah besar. Studi menyebutkan, AI bisa menggunakan antara 1,8 hingga 12 liter air per kilowatt jam energi. Pada tahun 2027, konsumsi air global untuk AI bisa mencapai 6,6 miliar meter kubik—setara hampir dua pertiga konsumsi air tahunan di Inggris.
Ketua EA, Alan Lovell, menyatakan bahwa kekurangan air Inggris bukan hanya mengancam kebutuhan sehari-hari, tetapi juga pertumbuhan ekonomi dan ketahanan pangan. Ia menyerukan kerja sama lintas sektor untuk melindungi sumber daya air dan mencegah dampak lingkungan yang lebih besar.
Langkah Infrastruktur dan Tantangan Lingkungan
Untuk mengatasi potensi krisis, sembilan instalasi desalinasi, sepuluh waduk, dan tujuh sistem daur ulang air direncanakan selesai sebelum 2050. Seluruh biaya proyek ini akan dibebankan pada pelanggan melalui kenaikan tarif air. Selain itu, pemerintah akan memperluas penggunaan smart meter di rumah tangga. Alat ini memungkinkan pencatatan konsumsi air dan penagihan berbasis pemakaian nyata.
Namun, tidak semua rencana berjalan mulus. Proyek Thames Water senilai £300 juta menuai kritik karena berencana mengambil air dari Sungai Thames dan menggantinya dengan air limbah hasil olahan. Ribuan warga dan anggota parlemen menolak proyek ini karena dikhawatirkan menurunkan kualitas air sungai dan mengancam ekosistem lokal. Bahkan EA menyebut proyek tersebut belum layak secara teknis maupun lingkungan.
Di sisi lain, Thames Water tercatat kehilangan 570 juta liter air per hari akibat kebocoran jaringan. Ini menjadikannya perusahaan air dengan tingkat kebocoran tertinggi di Inggris.
Kepala Ofwat, David Black, menekankan pentingnya membangun infrastruktur air untuk mencegah kekurangan air Inggris yang lebih parah. Ia mendorong percepatan realisasi 30 proyek besar demi menjaga keberlanjutan pasokan air di Inggris dan Wales.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.
Sumber : theguardian.com
