Waspada Penipuan Streaming Musik: Dampaknya bagi Musisi Independen

penipuan streaming musik
Sumber Foto : Freepik

Persaingan baru tengah terjadi dalam industri musik global—penipuan streaming musik kini menjadi ancaman serius yang merugikan banyak musisi independen. Praktik ini melibatkan penyusupan ribuan lagu hasil buatan kecerdasan buatan (AI) ke platform seperti Spotify dan Apple Music dengan tujuan mengakali sistem royalti. Menurut data dari Deezer pada April lalu, sekitar 20.000 lagu AI ditambahkan ke platform mereka setiap harinya, naik hampir dua kali lipat dari Januari.

Modus yang digunakan pun beragam. Ada yang memakai bot, teknologi AI, atau bahkan pekerja sungguhan untuk memutar lagu secara berulang demi mengumpulkan pendapatan dari royalti. Lebih parah lagi, beberapa pelaku bahkan berhasil menempatkan lagu palsu ke dalam akun artis nyata, sehingga menyedot penghasilan yang seharusnya diterima oleh musisi asli.

Spotify menyatakan telah menjatuhkan sanksi kepada pelaku terburuk dan mengklaim bahwa mereka menginvestasikan sumber daya besar untuk mendeteksi dan menghapus aktivitas streaming buatan. Apple Music juga mengklaim bahwa manipulasi hanya terjadi pada kurang dari 1% total streaming di platform mereka. Namun, di tengah nilai industri streaming global yang mencapai $20,4 miliar (menurut IFPI), kerugian akibat praktik curang ini bisa mencapai ratusan juta dolar setiap tahun.

Sistem Deteksi Belum Ramah bagi Musisi Independen

Kemudahan akses dalam mengunggah musik ke platform digital memudahkan siapa pun, termasuk penipu. Sayangnya, upaya untuk melawan manipulasi ini justru kerap merugikan musisi independen. Banyak kasus menunjukkan bahwa sistem otomatis justru menurunkan lagu dari artis sah hanya karena lonjakan jumlah streaming yang dianggap mencurigakan.

Darren Owen dari perusahaan distribusi musik Fuga mengungkapkan bahwa sejak 2021, penipuan streaming musik telah menjadi masalah utama dalam industrinya. Perusahaannya kini menggunakan teknologi AI untuk mendeteksi pola mendengarkan yang tidak manusiawi, termasuk aktivitas dari negara-negara yang dikenal sebagai pusat click farm seperti India, Vietnam, Thailand, dan wilayah Eropa Timur.

Masalah ini diperparah oleh kurangnya transparansi dan proses banding yang rumit. Musisi seperti Darren Hemmings, band asal Irlandia Utara Final Thirteen, dan Adam J Morgan mengaku lagunya diturunkan tanpa penjelasan yang jelas. Bahkan distribusi bisa dibatalkan hanya karena lonjakan mendadak akibat viral di TikTok atau diputar di radio nasional.

Saatnya Membenahi Sistem dan Melindungi Artis Asli

Akibat dari takedown sepihak bisa sangat merugikan. Selain menghambat kampanye pemasaran, musisi juga harus membayar ulang untuk mengunggah lagu, seperti dialami Matthew Whiteside yang lagunya ditambahkan secara tidak sengaja ke daftar putar yang dimanipulasi. Biaya pengunggahan ulang album sebesar $40 sangat membebani musisi kecil dengan anggaran terbatas.

Layanan seperti Deezer telah mengklaim bahwa mereka memeriksa permintaan penghapusan lagu secara manual dan hanya menghapus jika ada bukti kuat. Namun, tidak semua platform menerapkan prinsip kehati-hatian yang sama. Banyak musisi merasa sistem yang ada cenderung menganggap mereka bersalah terlebih dahulu, dengan proses banding yang sulit dan minim respons.

Levina, penyanyi pop yang pernah mewakili Jerman di Eurovision 2017, menyatakan bahwa musisi kerap tidak punya kuasa dalam proses ini. Bahkan kesamaan nama dengan artis lain bisa menyebabkan lagunya dihapus secara otomatis. Ia kini tergabung dalam Featured Artists Coalition dan tengah merancang standar minimum bagi distributor agar lebih adil bagi musisi.


Penipuan streaming musik bukan hanya masalah teknis, tapi juga berdampak besar pada keberlangsungan karier musisi independen. Diperlukan sistem yang lebih transparan dan adil agar artis kecil tidak terus menjadi korban dalam perang melawan manipulasi digital.

Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.

Sumber : theguardian.com

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *