Strategi Ekspansi dan Digitalisasi PT Mega Perintis Tbk di Industri Fesyen Ritel

PT Mega Perintis
Sumber Foto : Freepik

Fesyen menjadi bagian penting dari gaya hidup masyarakat karena berfungsi sebagai ekspresi diri sekaligus cerminan budaya kelompok. Tren fesyen yang cepat berubah menuntut pelaku industri untuk terus beradaptasi. Di tengah persaingan ketat tersebut, PT Mega Perintis Tbk, emiten dengan kode saham ZONE, berhasil mempertahankan eksistensinya.

Mega Perintis memulai usaha sebagai konfeksi rumahan pada tahun 1999 dan resmi memasuki bisnis ritel pada 2005 dengan meluncurkan berbagai merek seperti Manzone, MOC, dan Ollo. Perusahaan kemudian memperluas portofolio merek dengan menambahkan Men’s Top dan Fake London.

Ekspansi Merek dan Anak Usaha

Pada 2013, PT Mega Perintis mendirikan anak usaha, PT Mitrelino Global, yang fokus pada ritel merek internasional. Pada tahun yang sama, perusahaan juga memperoleh lisensi merek Basic House asal Korea dan membuka gerai Nike di Indonesia. Setahun berikutnya, perusahaan membangun PT Mega Putra Garment sebagai lini manufaktur, termasuk pembangunan pabrik di Pemalang serta meluncurkan brand Batik’s Plus.

Hingga kini, PT Mega Perintis mengelola sekitar 551 gerai yang terdiri dari 225 toko milik sendiri, 281 konter di department store, dan 45 outlet serta bazar. Meskipun terus ekspansi, perusahaan memutuskan menonaktifkan anak usaha PT Mitrelino Global pada 2025. Direktur Mega Perintis, Luki Rusli, menegaskan langkah ini tidak berdampak pada kinerja perseroan.

Fokus pada Efisiensi dan Digitalisasi

“Ini bukan penutupan, melainkan pengalihan operasional ke induk usaha Mega Perintis karena kesamaan bidang usaha,” jelas Luki. Penonaktifan ini bertujuan meningkatkan efisiensi operasional dan menyederhanakan struktur manajemen. Strategi ini juga menyesuaikan distribusi sesuai kebijakan internal. Hubungan dengan pemilik merek tetap terjaga dengan baik.

Di tengah tekanan daya beli masyarakat dan persaingan ketat, ZONE mencatat hasil positif. Pada kuartal pertama 2025, penjualan naik 25,80% menjadi Rp 270,30 miliar. Laba bersih juga meningkat 23,12% menjadi Rp 21,03 miliar.

Luki menyatakan, “Kondisi pasar menuntut kami menerapkan strategi adaptif untuk meningkatkan daya saing.” Kekuatan ZONE ada pada jaringan distribusi luas dan penguatan saluran penjualan digital. Produk dengan desain in-house selalu mengikuti tren dan visi perusahaan.

Keberadaan lini manufaktur memastikan rantai pasok terjaga dan pengiriman tepat waktu. Untuk menghadapi tantangan ke depan, ZONE menyiapkan beberapa strategi. Pertama, ekspansi gerai dengan enam toko baru, termasuk konsep baru untuk Manzone dan Minimal. Renovasi gerai lama juga direncanakan.

Perusahaan mengalokasikan belanja modal sebesar Rp 23 miliar pada tahun ini, terutama untuk pembukaan dan renovasi gerai. Kedua, memperkuat kanal penjualan daring melalui marketplace dan situs resmi setiap merek. Penjualan online kini menjadi motor utama pertumbuhan.

Ketiga, peningkatan produktivitas dan efisiensi melalui pengadaan mesin otomatis di lini produksi PT Mega Putra Garment. Otomatisasi ini diharapkan menekan biaya dan meningkatkan output. ZONE menargetkan pendapatan tumbuh 15% menjadi Rp 831 miliar dan laba bersih melonjak 391,87% menjadi Rp 34 miliar tahun ini.


Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.

Sumber : kontan.co.id

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *