Serangan siber ritel kembali merebak dan menargetkan sejumlah merek ternama. Dua nama terbaru yang menjadi korban pencurian data pelanggan adalah The North Face dan perhiasan mewah Cartier. Keduanya mengonfirmasi bahwa data pelanggan seperti nama dan alamat email telah dicuri, meskipun informasi finansial tidak terdampak.
The North Face mengirimkan pemberitahuan kepada sebagian konsumennya terkait insiden keamanan siber skala kecil yang terjadi pada April tahun ini. Perusahaan mengungkap bahwa metode yang digunakan pelaku adalah credential stuffing, yaitu teknik yang memanfaatkan kombinasi nama pengguna dan kata sandi yang sebelumnya bocor dalam insiden lain. Jika pengguna menggunakan kata sandi yang sama di beberapa akun, penyerang dapat dengan mudah mendapatkan akses.
Data seperti alamat pengiriman dan riwayat pembelian kemungkinan juga turut terekspos. Para pelanggan yang terdampak telah diimbau untuk segera mengganti kata sandi mereka.
Pemilik merek The North Face, VF Corporation, juga pernah mengalami serangan siber serupa pada Desember 2023. Ketika itu, merek lain milik mereka, Vans, menjadi sasaran dengan risiko data pelanggan turut terdampak.
Sementara itu, Cartier mengonfirmasi bahwa pihak yang tidak berwenang sempat memperoleh akses sementara ke sistem mereka. Berdasarkan surel yang dikirimkan kepada pelanggan dan dilihat oleh BBC News, informasi yang diperoleh bersifat terbatas, dan tidak mencakup kata sandi maupun data kartu pembayaran. Cartier menyebut telah berhasil mengendalikan situasi dan meningkatkan perlindungan sistem mereka. Perusahaan juga telah melaporkan insiden tersebut ke pihak berwenang.
Rentetan Serangan Siber Terhadap Peritel
Insiden ini menambah panjang daftar serangan siber ritel yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Sejumlah merek besar seperti Adidas, Victoria’s Secret, dan Harrods juga melaporkan pelanggaran data. Di Inggris, Marks and Spencer (M&S) serta Co-op mengalami gangguan operasional serius akibat serangan pada April. M&S bahkan memproyeksikan penurunan laba tahunan sekitar £300 juta akibat insiden ini.
James Hadley, pendiri perusahaan keamanan siber Immersive, menyebut industri ritel saat ini “penuh sesak dengan data pelanggan”, sehingga menjadi sasaran empuk bagi para peretas. Ia menambahkan bahwa data hasil pencurian dapat digunakan untuk menyamar sebagai perusahaan resmi guna memperoleh informasi yang lebih sensitif di kemudian hari—suatu taktik jangka panjang yang sering digunakan oleh pelaku kejahatan siber.
Adidas sebelumnya mengonfirmasi pencurian data dari layanan bantuan pelanggannya, sementara Victoria’s Secret sempat menonaktifkan situs webnya di Amerika Serikat karena insiden keamanan.
Di tengah meningkatnya kasus ini, Badan Kejahatan Nasional Inggris menegaskan bahwa mengungkap pelaku serangan siber menjadi prioritas utama mereka.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.
Sumber : bbcnews.com
