KKR Mundur, Nasib Thames Water di Ujung Tanduk

Krisis Thames Water
Sumber Foto : Freepik

Thames Water kembali menghadapi krisis serius setelah perusahaan ekuitas swasta asal Amerika Serikat, KKR, membatalkan kesepakatan penyelamatan senilai £4 miliar. Keputusan ini meningkatkan kemungkinan perusahaan air terbesar di Inggris masuk ke dalam pengawasan administrasi pemerintah.

Pembatalan ini disebut dipicu oleh kekhawatiran atas risiko politik dan regulasi. Padahal, KKR sebelumnya telah ditunjuk sebagai mitra utama dalam penyuntikan dana segar untuk menyelamatkan perusahaan.

Dampak Besar bagi Layanan Publik

Thames Water melayani seperempat penduduk Inggris. Wilayah cakupannya meliputi London dan sebagian besar wilayah selatan. Perusahaan ini mempekerjakan sekitar 8.000 orang dan bertanggung jawab atas pasokan air bersih.

Namun, krisis Thames Water semakin parah. Mereka memiliki utang sekitar £19 miliar, menghadapi masalah kebocoran, pencemaran limbah, dan infrastruktur yang usang.

Meski begitu, otoritas menjamin layanan air tetap berjalan normal. Hal ini berlaku terlepas dari siapa pun pemilik perusahaan nantinya.

Saat ini, Thames Water dimiliki oleh sekelompok kreditur. Konsorsium tersebut telah menyiapkan rencana baru untuk menyelamatkan perusahaan. Sumber internal menyebut rencana ini sudah sepenuhnya didanai dan siap dijalankan.

Kurangnya Diversifikasi Mitra dan Tantangan Regulasi

Sebelumnya, Komite Lingkungan Parlemen Inggris sudah menyampaikan kekhawatiran. Mereka menilai Thames Water hanya fokus pada satu calon investor, yakni KKR. Hal ini bertentangan dengan saran regulator industri air, Ofwat.

Kini, kekhawatiran itu menjadi kenyataan. Pemerintah mengatakan akan terus memantau situasi. Menteri Lingkungan Hidup Steve Reed menegaskan bahwa pemerintah siap mengambil alih melalui skema Special Administration Regime jika perusahaan gagal bertahan.

Reformasi Industri Air Semakin Mendesak

Laporan sementara dari komisi independen menyatakan sistem regulasi saat ini kacau. Ketua komisi, Sir Jon Cunliffe, mengatakan regulasi yang rumit membuat sektor air sulit menarik investor jangka panjang.

Ia menekankan pentingnya kehadiran investor seperti dana pensiun dan asuransi. Investor seperti itu lebih fokus pada kesehatan perusahaan dalam jangka panjang.

“Kalau regulasinya terlalu bergejolak, seperti kasus Thames Water, investor akan mundur,” ujarnya kepada BBC.

Sementara itu, Castle Water sempat menyatakan siap membantu. Namun, Thames Water menegaskan hanya akan menjalankan rencana yang disusun oleh para krediturnya.


Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.

Sumber : bbcnews.com

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *