Dunia aset kripto mengalami perubahan besar dalam satu setengah tahun terakhir. Harga bitcoin 2025 melonjak dan regulasi pun ikut berkembang. Kini, semakin banyak investor dan penasihat keuangan yang mempertimbangkan investasi aset kripto.
Bitcoin dan Ethereum kini diawasi langsung oleh SEC melalui produk ETF spot. Coinbase juga telah masuk ke dalam indeks S&P 500. Perusahaan stablecoin Circle pun melantai di bursa saham. Semua ini menandakan kripto semakin diterima sebagai kelas aset yang sah.
Ric Edelman, pendiri Digital Assets Council of Financial Professionals, menilai kini saat yang tepat untuk mempertimbangkan aset kripto. Ia menyebutkan bahwa diversifikasi portofolio tidak lengkap tanpa eksposur pada aset digital, meskipun dalam jumlah kecil.
“Berhati-hati itu penting, tapi bukan berarti harus menghindar sepenuhnya,” jelasnya.
Simulasi Investasi Bitcoin dalam Portofolio
Beberapa tahun lalu, Edelman menyarankan alokasi 1% portofolio ke kripto. Ia menyebut, bahkan jika nilainya menjadi nol, dampaknya terhadap portofolio jangka panjang sangat kecil.
Ia membandingkan portofolio standar 60% saham dan 40% obligasi dengan yang menyisihkan sebagian saham untuk bitcoin. Jika 1% saham diganti bitcoin, imbal hasil rata-rata hanya turun dari 7% menjadi 6,9% jika bitcoin jatuh ke nol. Namun bisa naik menjadi 7,4% jika harga bitcoin tembus 1 juta dolar.
Jika alokasi bitcoin ditingkatkan jadi 3%, rata-rata imbal hasil akan berada di kisaran 6,8%–8,2%. Bahkan untuk eksposur 5%, imbal hasil bisa naik hingga 9% jika skenario ekstrem terjadi.
ETF Bitcoin Jadi Pilihan Aman untuk Pemula
Edelman menyarankan pemula untuk memulai dengan bitcoin. Aset ini adalah yang paling besar dan menjadi pilihan utama investor institusi. Namun, membeli langsung dan menyimpan sendiri bisa membingungkan dan berisiko.
Ross, pendiri 401 Financial, menekankan bahwa penipuan masih menjadi masalah besar. Karena itu, ia dan Edelman menyarankan ETF bitcoin yang sudah diatur oleh SEC sebagai pilihan paling aman.
Tidak Cocok untuk Semua Investor
Namun, tidak semua pakar sependapat. CIO TIAA, Niladri Mukherjee, menyebut bahwa meski adopsi kripto makin luas, nilai dan penggerak harganya masih belum sepenuhnya dipahami. Industri ini dinilai masih belum transparan dan tetap mengandung risiko tinggi.
Edelman juga menegaskan, kripto bukan untuk semua orang. Jika Anda tidak tahan terhadap volatilitas tinggi, sebaiknya hindari. Ia menyarankan untuk memulai dengan nominal kecil, misalnya seharga makan malam favorit Anda.
Ross menambahkan, pemula sebaiknya belajar dulu. Lacak pergerakan harga, pahami dinamika pasar, dan baca berita tentang aset tersebut sebelum berinvestasi lebih besar.
Berapa Alokasi Ideal untuk Kripto?
Lazetta Rainey Braxton menyarankan alokasi yang cukup kecil agar tidak mengganggu nilai keseluruhan portofolio. Pilihlah platform atau penyedia yang terpercaya dan memiliki infrastruktur kuat.
Sementara itu, Trent Porter dari Priority Financial Partners tetap skeptis. Ia menyarankan agar eksposur kripto tidak melebihi 5%, meski regulasi kini lebih jelas. Menurutnya, risiko pasar tetap tinggi dan peraturan bisa berubah sewaktu-waktu.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.
Sumber : cnn.com
