Cuaca Panas Ekstrem di Indonesia Bukan Heatwave, BRIN Tegaskan Hot Spell

fenomena hot spell
Sumber Foto : Freepik

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan bahwa cuaca panas ekstrem yang dirasakan di sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa waktu terakhir bukan termasuk gelombang panas (heatwave), melainkan fenomena hot spell. Pernyataan ini disampaikan oleh Peneliti Klimatologi dan Perubahan Iklim BRIN, Erma Yulihastin, berdasarkan hasil pengamatan dan riset selama sepuluh tahun terakhir.

Menurut Erma, fenomena hot spell adalah kondisi suhu tinggi yang melebihi ambang batas ekstrem, tetapi belum memenuhi kriteria heatwave yang biasanya terjadi ketika suhu berada di atas 40°C secara konsisten. “Berdasarkan hasil analisis BRIN, Indonesia tidak mengalami heatwave, melainkan hot spell,” ujarnya saat dihubungi Bisnis pada Kamis (5/6/2025).

Pengaruh Posisi Matahari dan Tren Kemarau Basah

Erma menjelaskan bahwa fenomena hot spell erat kaitannya dengan posisi matahari terhadap garis khatulistiwa. Daerah-daerah yang berada dekat ekuator, seperti Sumatra bagian tengah (Pekanbaru, Riau, Jambi), serta sejumlah kota di Pulau Jawa seperti Jakarta, Semarang, dan Surabaya, lebih rentan mengalami suhu panas tinggi.

“Wilayah yang berada di dekat garis ekuator dan pesisir utara Jawa termasuk yang paling terdampak,” tambah Erma. Data BRIN menunjukkan bahwa suhu di beberapa daerah tersebut telah menembus angka 37°C, meski masih belum tergolong heatwave.

Fenomena ini biasanya muncul pada bulan Maret, April, Mei, September, Oktober, dan November—periode transisi yang disebut masa pancaroba. Selain itu, BRIN juga mencatat tren kemarau basah yang muncul secara reguler sejak 2018 hingga 2022. Tren ini disebabkan oleh anomali kelembapan dan gangguan atmosfer, seperti pusaran siklon di Samudra Hindia.

“Sejak 2018, musim kemarau cenderung mengalami anomali basah karena adanya gangguan cuaca berskala sinoptik. Ini meningkatkan peluang terjadinya musim kemarau yang tetap lembap,” jelas Erma.

Dampak Urban Heat Island dan Prediksi BMKG

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin, turut memperkuat pernyataan BRIN dan BMKG. Ia menjelaskan bahwa peningkatan suhu udara saat ini adalah bagian dari masa pancaroba, bukan akibat heatwave. “Suhu di masa pancaroba, terutama April–Mei dan Oktober–November, cenderung lebih tinggi dibanding musim kemarau atau musim hujan,” ujarnya.

Thomas juga menyoroti pengaruh urban heat island, yakni peningkatan suhu di wilayah perkotaan akibat emisi kendaraan, industri, dan aktivitas rumah tangga. Menurutnya, efek ini membuat suhu di kota-kota besar tetap tinggi bahkan pada malam hari.

Sementara itu, BMKG memprediksi bahwa sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami kemarau basah tahun ini. Sekitar 84% wilayah diperkirakan tetap menerima curah hujan tinggi hingga puncak musim kemarau di Agustus 2025. Faktor-faktor seperti suhu muka laut yang hangat, monsun aktif, serta pengaruh La Nina dan IOD negatif disebut turut berkontribusi dalam fenomena ini.


Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.

Sumber : bisnis.com

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *