Himpunan Peritel & Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) menegaskan bahwa peritel nasional harus mengubah model bisnisnya untuk menarik lebih banyak pelanggan, terutama menyusul gugurnya ritel asing di Indonesia seperti Lulu Hypermart dan GS Supermarket yang memutuskan berhenti beroperasi.
Ketua Umum Hippindo, Budihardjo Iduansjah, menuturkan bahwa peritel harus menghadirkan inovasi, seperti menyediakan fasilitas parkir gratis dan program poin menarik yang bekerjasama dengan mal, guna meningkatkan daya tarik bagi konsumen. “Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah memberikan lahan parkir gratis atau program free untuk menarik kunjungan. Selain itu, poin-poin reward melalui kolaborasi dengan mal juga efektif,” jelas Budihardjo.
Menurutnya, supermarket dan hypermarket juga perlu memastikan ketersediaan produk lengkap, termasuk barang impor. Selain itu, harga yang kompetitif harus dijaga agar konsumen tidak beralih ke peritel lain. Dengan langkah tersebut, peritel diharapkan dapat meningkatkan jumlah pelanggan dan bertahan di pasar.
Budihardjo juga optimistis bisnis ritel akan tetap bergerak dinamis tahun ini, didukung oleh berbagai program seperti Belanja di Indonesia Aja (BINA), Jakarta Great Sale, dan perayaan ulang tahun Indonesia. Namun, ia menekankan bahwa peningkatan trafik pengunjung tidak hanya dapat dihasilkan oleh peritel sendiri. “Ritel hanya bisa menyiapkan program dan barang, sementara traffic itu datang dari event atau wisatawan. Oleh karena itu, perlu ada sinergi antara pemerintah dan asosiasi,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa Kementerian Perekonomian harus bekerjasama dengan kementerian terkait, seperti Kementerian Pariwisata dan Kementerian Perdagangan, untuk mendongkrak bisnis ritel melalui peningkatan trafik pengunjung.
Tren Pemutusan Hubungan Kerja di Sektor Ritel
Dalam kesempatan berbeda di Puncak Harkonas 2025 di Taman Mini Indonesia Indah, Budihardjo mengakui adanya tren pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor ritel. Fenomena ini terjadi karena banyak perusahaan ritel yang menutup cabang mereka. Meski demikian, menurutnya, pekerja yang terdampak biasanya cepat terserap oleh peritel lain. Hal ini dikarenakan keterampilan di bidang ritel yang cukup spesifik, meliputi kemampuan pelayanan pelanggan, penggunaan teknologi seperti sistem komputer dan scanner, hingga penjualan online.
Hingga saat ini, Hippindo sedang mengumpulkan data mengenai jumlah ritel yang tutup dan jumlah pekerja yang terdampak PHK. Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan, hingga 23 April 2025 tercatat 24.036 orang mengalami PHK. Angka ini merupakan sekitar sepertiga dari total PHK sepanjang tahun 2024 yang mencapai 77.965 orang.
Baca artikel lainya di sini untuk informasi menarik lainnya tentang bisnis dan ritel: roledu.com/artikel
Sumber : bisnis.com






