Masa Depan Robot Humanoid: Antara Potensi Industri dan Tantangan Kecerdasan Buatan

robot humanoid
Sumber Foto : Freepik

Di tengah hangatnya pagi musim semi di Hanover, Jerman, sebuah inovasi menarik menjadi pusat perhatian di ajang Hannover Messe — salah satu pameran industri terbesar di dunia. Di sana, robot humanoid bernama G1, buatan perusahaan Tiongkok Unitree, berhasil menarik minat pengunjung dengan gerakannya yang luwes dan responsif.

Berukuran sekitar 130 cm, G1 lebih kecil dan terjangkau dibanding robot humanoid lainnya. Dengan harga sekitar $16.000 (sekitar Rp250 juta), Unitree memposisikan G1 sebagai solusi robotik untuk institusi riset dan perusahaan teknologi. Pengoperasian G1 masih dilakukan secara manual, namun perangkat lunaknya bersifat open-source, memungkinkan pengembangan lebih lanjut untuk fungsi otonom.

Pengunjung pameran terlihat antusias berinteraksi dengan G1. Mereka mencoba berjabat tangan, menguji reaksi robot terhadap gerakan mendadak, bahkan tertawa saat robot ini membungkuk atau melambaikan tangan. Bentuknya yang menyerupai manusia, meskipun terkesan ganjil, justru membuatnya lebih mudah diterima secara sosial.

Tantangan AI dan Lingkungan Tak Terduga

Meski potensinya besar, menghadirkan robot humanoid di lingkungan rumah atau restoran masih menyimpan banyak tantangan. Tidak seperti pabrik dan gudang yang bisa dikendalikan secara penuh, ruang publik dan domestik jauh lebih dinamis dan sulit diprediksi.

Robot humanoid idealnya harus kuat untuk bisa berguna, namun kekuatan itu juga berisiko membahayakan manusia jika terjadi kesalahan gerak atau roboh secara tiba-tiba. Di sisi lain, pengembangan kecerdasan buatan (AI) untuk mengendalikan robot semacam ini masih belum mencapai terobosan signifikan.

Seorang juru bicara Unitree menyebutkan bahwa AI saat ini masih kesulitan dalam hal logika dasar dan penalaran kompleks untuk menyelesaikan tugas-tugas sehari-hari.

Fokus Industri dan Dominasi Asia

Untuk saat ini, pengembangan robot humanoid lebih diarahkan ke kebutuhan industri. Elon Musk misalnya, melalui perusahaannya Tesla, tengah mengembangkan robot Optimus yang direncanakan akan digunakan di pabrik-pabrik Tesla. Bahkan, Musk mengklaim ribuan unit akan diproduksi tahun ini.

Produsen mobil lainnya seperti BMW dan Hyundai juga turut serta dalam perlombaan ini. BMW telah mengadopsi robot humanoid di pabrik AS-nya, sementara Hyundai memesan puluhan ribu robot dari Boston Dynamics — perusahaan robotik yang mereka akuisisi pada 2021.

Menurut Thomas Andersson, pendiri lembaga riset STIQ, saat ini terdapat 49 perusahaan global yang fokus pada robot berbentuk manusia dengan dua tangan dan dua kaki. Jika dimasukkan juga robot berkaki roda, jumlahnya bisa mencapai lebih dari 100 perusahaan. Andersson menilai, ekosistem robotik di Tiongkok memberi keunggulan kompetitif yang kuat — mulai dari rantai pasok, kemudahan iterasi teknologi, hingga dukungan dari pemerintah pusat dan daerah.

Strategi Eropa: Efisiensi dan Kesederhanaan

Bren Pierce, pendiri perusahaan robotik asal Inggris, Kinisi, memilih pendekatan berbeda. Robot buatannya, KR1, dirancang untuk keperluan gudang dan pabrik — tanpa kaki, hanya menggunakan roda. Menurutnya, lingkungan industri tak memerlukan bentuk humanoid utuh karena lantainya datar dan mudah diakses.

KR1 menggunakan komponen umum yang tersedia di pasaran, seperti roda skuter listrik, baterai, dan kamera massal. Filosofi Pierce adalah menyederhanakan penggunaan robot agar tidak hanya bisa dioperasikan oleh insinyur berpengalaman, tetapi juga oleh pekerja biasa dalam waktu pelatihan singkat.

Robot di Rumah? Mungkin, Tapi Belum Sekarang

Meski robot humanoid sudah mulai “berkeliaran” di ruang pameran dan pabrik, kehadirannya di rumah masih dianggap jauh dari kenyataan. Bren Pierce, yang telah bermimpi menciptakan “robot segalanya” selama 20 tahun terakhir, mengakui bahwa mewujudkan impian itu adalah tugas yang sangat kompleks dan masih membutuhkan waktu lama.

“Saya yakin suatu saat akan terwujud, tapi paling cepat mungkin 10 hingga 15 tahun lagi,” ujarnya.


Baca artikel menarik lainnya seputar teknologi dan tren digital di sini: roledu.com/artikel

Sumber : bbcnews.com

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *