Marks & Spencer (M&S), salah satu ritel ternama di Inggris, menjadi korban serangan siber yang mengakibatkan kebocoran data pribadi pelanggan. Insiden ini juga melumpuhkan layanan pemesanan online mereka selama lebih dari tiga minggu.
Sejak 25 April 2025, M&S menghentikan seluruh aktivitas pemesanan melalui situs resminya. Gangguan ini muncul sejak akhir pekan Paskah dan berdampak besar terhadap operasional. Harga saham perusahaan tercatat turun hingga 15% sejak insiden terjadi.
Pihak M&S mengonfirmasi bahwa sebagian informasi pelanggan telah dicuri. Meski demikian, mereka menegaskan bahwa data yang bocor tidak mencakup informasi pembayaran atau kata sandi akun. “Data tersebut tidak dapat digunakan untuk transaksi dan tidak ada bukti bahwa telah dibagikan,” ujar pernyataan resmi perusahaan.
Dampak Finansial dan Langkah Penanganan
Serangan ini diyakini merupakan aksi ransomware, di mana pelaku menyusup ke sistem, mengenkripsi data, lalu meminta tebusan. M&S belum menyebutkan pelaku secara resmi, namun menyatakan bahwa serangan ini sangat kompleks.
Perusahaan telah meningkatkan sistem keamanannya dan bekerja sama dengan pakar keamanan siber, pihak kepolisian, serta otoritas pemerintah. Mereka juga memastikan pelanggan tidak perlu melakukan tindakan khusus saat ini.
Dampak finansial masih belum dirinci. Namun, analis dari Deutsche Bank memperkirakan kerugian mencapai sedikitnya 30 juta poundsterling. Setiap minggunya, kerugian ditaksir mencapai 15 juta pound. Asuransi siber diperkirakan akan menanggung sebagian besar kerugian, meski biasanya hanya untuk periode tertentu.
Sekitar sepertiga penjualan pakaian dan perlengkapan rumah M&S berasal dari kanal online. Dengan banyak pelanggan berbelanja untuk musim panas dan situs masih offline, perusahaan kehilangan potensi penjualan secara signifikan.
Baca juga artikel menarik lainnya di sini:
Temukan berita, tren bisnis, dan strategi digital marketing terbaru hanya di roledu.
Sumber : reuters.com






