Trump Akan Cabut Aturan AI Era Biden, Teknologi Amerika Terancam Lari ke China?

Aturan AI Biden
Sumber Foto : Freepik

Presiden Donald Trump berencana mencabut serangkaian aturan terkait kecerdasan buatan (AI) yang diterapkan pada masa akhir pemerintahan Joe Biden. Aturan ini dibuat untuk mencegah teknologi canggih jatuh ke tangan negara yang dianggap sebagai musuh asing.

Langkah Trump bisa berdampak besar pada distribusi global chip AI. Ini memengaruhi siapa yang akan meraup untung, hingga posisi Amerika Serikat dalam persaingan teknologi dunia.

Senator Ted Cruz menyampaikan dukungannya dalam sidang komite Senat yang membahas regulasi AI pekan lalu. “Saya telah menolak aturan ini selama berbulan-bulan, dan senang Presiden Trump memastikan rencananya untuk mencabutnya,” kata Cruz.

Cruz juga akan mengusulkan undang-undang baru untuk menciptakan “AI sandbox”. Ini adalah ruang uji coba regulasi, seperti yang dilakukan Presiden Bill Clinton pada era awal internet.

Infrastruktur AI dan Dukungan Industri Teknologi

CEO OpenAI Sam Altman baru saja mengunjungi fasilitas Apple di Texas. Di sana, Apple sedang membangun pusat pelatihan AI terbesar di dunia. Perusahaan ini telah berkomitmen investasi senilai $500 miliar untuk memperluas operasionalnya di AS, termasuk membangun server untuk fitur Apple Intelligence.

Altman menekankan pentingnya membangun infrastruktur AI di dalam negeri. “Kita butuh lebih banyak inisiatif seperti itu,” ujarnya.

Aturan AI era Biden yang akan berlaku mulai 15 Mei mengelompokkan negara dalam tiga tingkat pembatasan. Negara seperti Inggris, Jerman, dan Jepang masuk kategori longgar. China dan Rusia termasuk dalam kelompok paling ketat.

Namun, negara-negara tingkat menengah justru memunculkan kekhawatiran. Brad Smith dari Microsoft menyebut bahwa kebijakan ini bisa mendorong mereka beralih ke China untuk mencari teknologi AI. “Arahnya sudah jelas,” tulisnya dalam artikel Februari lalu.

Persaingan Teknologi dan Tantangan Etika AI

Nvidia dan banyak eksekutif teknologi lainnya juga menolak pembatasan tersebut. Mereka mendorong inovasi dan adopsi AI yang lebih cepat. Smith menegaskan bahwa AI seharusnya menciptakan pekerjaan yang lebih baik, bukan menggantikan manusia.

Sidang Senat juga membahas dilema etika. Termasuk akurasi chatbot, pelanggaran hak cipta, dan perlindungan anak. Lembaga Common Sense Media menyebut aplikasi AI menimbulkan risiko serius bagi remaja. Hal ini mencuat setelah adanya kasus bunuh diri remaja setelah berinteraksi dengan chatbot.

Altman menyatakan kesiapannya untuk berkolaborasi merancang perlindungan bagi pengguna muda. “Hubungan sosial dengan AI adalah hal baru yang perlu diperhatikan,” ujarnya.

Pemerintahan Trump mendorong deregulasi AI sejak awal. Wakil Presiden JD Vance bahkan menilai bahwa regulasi yang ketat bisa “membunuh industri ini sebelum tumbuh.”

Trump mengklaim dirinya berperan membawa manufaktur teknologi kembali ke AS. Investasi besar dari Apple dan TSMC menjadi buktinya. Pemerintah juga akan memberlakukan tarif baru untuk semikonduktor, meski produk seperti smartphone masih dalam tahap evaluasi.

Sementara itu, persaingan dengan China semakin panas. Startup DeepSeek dari Tiongkok menghadirkan model AI yang lebih murah dan disebut mampu menyaingi teknologi OpenAI.

Smith menegaskan bahwa kunci kemenangan ada pada seberapa luas teknologi itu diadopsi. “Yang akan menang adalah teknologi yang paling banyak digunakan di dunia,” tutupnya.


Baca artikel lainnya seputar keamanan digital dan teknologi di sini: roledu.com/artikel

Sumber : cnn.com

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *