Imbas Perang Dagang: Ekspor China ke AS Merosot 21% Setelah Tarif Trump Dikenakan

Ekspor China ke AS
Sumber Foto : Freepik

Pada April 2025, ekspor China ke Amerika Serikat turun tajam setelah tarif tinggi yang dikenakan oleh Presiden AS, Donald Trump. Berdasarkan data bea cukai yang dirilis pada Jumat, nilai ekspor China tercatat sebesar 33 miliar dolar AS. Itu turun 21% dibandingkan dengan 41,8 miliar dolar AS pada April 2024.

Meski demikian, ekspor China secara keseluruhan naik 8,1% dalam dolar AS pada bulan yang sama. Kenaikan ini jauh melampaui prediksi ekonom yang hanya 3,7%. Peningkatan ini didorong oleh lonjakan ekspor ke Asia Tenggara dan Eropa. Ekspor ke kedua kawasan ini masing-masing naik 21% dan 8%.

Upaya China Menghadapi Dampak Perang Dagang

Lv Daliang, direktur Departemen Statistik di Administrasi Umum Bea Cukai China, menyatakan bahwa sejak awal tahun, berbagai pihak di China bekerja sama untuk menghadapi guncangan eksternal. Mereka berfokus pada pemulihan ekonomi dan mempertahankan pertumbuhan perdagangan. China kini berusaha mencari pasar baru di luar AS sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada pasar AS.

Namun, dampak perang dagang ini juga dirasakan oleh AS. Ekonomi AS mengalami kontraksi pada kuartal pertama 2025. Ini adalah penurunan pertama dalam tiga tahun terakhir. Banyak perusahaan yang menimbun barang untuk mengantisipasi tarif “Hari Pembebasan” yang mulai berlaku pada April 2025.

Pembicaraan De-Eskalasi Perang Dagang

Penurunan perdagangan ini akan menjadi fokus utama dalam pertemuan pejabat perdagangan AS dan China di Jenewa, Swiss. Mereka akan membahas kemungkinan pengurangan tarif dan pembatasan impor tertentu. Scott Bessent, Sekretaris Keuangan AS, mengungkapkan harapan untuk “penurunan ketegangan”, meskipun ia tidak yakin tentang kesepakatan.

Presiden Trump, yang lebih optimis, mengatakan dia akan mempertimbangkan pengurangan tarif jika pembicaraan berjalan baik. Meski tarif sudah sangat tinggi, dia yakin hubungan kedua negara akan membaik. Trump juga mengungkapkan bahwa dia mungkin membahas kasus Jimmy Lai dalam negosiasi.

Dampak Jangka Panjang

China menghadapi tantangan ekonomi besar, seperti krisis properti dan rendahnya konsumsi domestik. Ekspor tetap menjadi sektor penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Meskipun Beijing berusaha mengurangi ketergantungan pada perdagangan dengan AS, negara ini tetap menjadi pasar utama.

Ekonom di bank investasi Nomura mengungkapkan bahwa AS menyumbang 14,7% dari ekspor China tahun lalu. Angka ini bisa meningkat menjadi 20,6% jika memasukkan ekspor melalui Hong Kong, Asia Tenggara, dan Meksiko. Jika ekspor China ke AS berkurang setengahnya, diperkirakan akan ada kerugian sebesar 1,1% terhadap PDB China. Dampaknya juga akan terasa pada sektor lain, terutama jasa yang mendukung ekspor barang.


Baca Artikel Lainnya:
Temukan lebih banyak artikel menarik seputar dunia film dan kebijakan ekonomi di roledu.com/artikel.

Sumber : cnn.com

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *