Kacau Akibat Serangan Siber, Pemasok M&S Terpaksa Gunakan Sistem Manual

Serangan Siber
Sumber Foto : Freepik

Salah satu pemasok terbesar Marks & Spencer (M&S), yakni Greencore, terpaksa kembali mencatat pesanan dengan pena dan kertas. Hal ini dilakukan karena gangguan sistem akibat serangan siber yang melumpuhkan operasi digital M&S selama lebih dari sepekan.

Layanan pemesanan online untuk produk pakaian dan perlengkapan rumah belum pulih. Beberapa toko juga mengalami kekosongan stok makanan akibat distribusi yang terganggu.

Chief Executive Greencore, Dalton Philips, mengatakan pihaknya telah menambah pengiriman hingga 20%. Langkah ini diambil untuk mengamankan stok menjelang akhir pekan libur panjang. Mereka juga menambah shift kerja dan armada pengangkutan dari pabrik khusus M&S di Northampton.

Operasi Manual dan Dukungan Tambahan di Toko

Karena sistem digital belum sepenuhnya pulih, Greencore mengandalkan cara lama seperti 25 tahun silam. “Tanpa sistem yang saling terhubung, kami kembali ke metode manual. Tapi itu tetap bisa berjalan,” ujar Philips.

Mereka kini mengirimkan lebih banyak produk ke toko-toko dibandingkan saat Natal. Bahkan, beberapa staf Greencore dikerahkan langsung ke gerai utama M&S di London untuk memberikan bantuan.

Namun, dampak serangan ini tidak hanya terasa di tingkat rantai pasok. Para karyawan M&S pun menghadapi tantangan. Sistem absen digital tak bisa diakses. Aplikasi internal karyawan juga lumpuh. Seorang pegawai di Wales mengaku khawatir soal gaji karena belum ada kepastian apakah pembayaran akan akurat.

Pihak perusahaan berjanji akan tetap membayar seluruh jam kerja sesuai kontrak. Namun sejauh ini, prosesnya dialihkan ke sistem pembayaran lain tanpa penjelasan rinci.

Sementara itu, perintah internal yang berubah-ubah membuat kebingungan. Seorang karyawan menyebut ada instruksi untuk menghapus kartu hadiah dari rak, lalu memintanya dikembalikan hanya beberapa jam kemudian.

M&S Belum Ungkap Detail Serangan Siber

M&S belum memberikan keterangan lengkap tentang penyebab serangan. Mereka hanya menyatakan bahwa sejumlah sistem dimatikan sementara, yang berdampak pada ketersediaan produk di toko.

Seorang veteran industri makanan menilai M&S kemungkinan fokus pada penyediaan produk-produk terlaris. Ia menambahkan, data penjualan lama dan dukungan pemasok bisa menjadi panduan meski sistem forecasting digital sedang tidak tersedia.

Ged Futter, mantan pembeli dari Asda yang kini menjadi konsultan pemasok, menyebut krisis ini tidak mudah. Namun ia yakin M&S akan menemukan jalan keluar. “Jika perlu, mereka pakai faks. Dalam situasi seperti ini, semua pihak akan bersatu untuk cari solusi,” ujarnya.

Meski komunikasi perusahaan kepada pelanggan dinilai cukup baik, keengganan mereka membuka detail serangan bisa menjadi bumerang. Ketua Komite Bisnis dan Perdagangan Parlemen Inggris, Liam Byrne, telah meminta penjelasan resmi kepada CEO M&S, Stuart Machin.

Seorang mantan CEO yang pernah menghadapi kebocoran data membagikan saran dari tim PR-nya: “Jangan bicara sampai kamu tahu semuanya. Setelah itu, sampaikan segalanya. Lalu diam.”


Baca artikel menarik lainnya seputar strategi bisnis dan teknologi di sini: roledu.com

Sumber : bbcnews.com

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *