Di tengah gejolak ekonomi global, bisnis wealth management bank-bank nasional justru mencatat pertumbuhan yang solid. Sebaliknya, tren dana pihak ketiga (DPK) perbankan mulai melambat. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan bahwa total dana kelolaan (AUM) dalam Sistem S-Invest mencapai Rp806,5 triliun per Mei 2025. Kenaikannya hanya 0,20% sejak awal tahun.
Bank Indonesia mencatat DPK industri perbankan sebesar Rp8.741,5 triliun per April 2025. Secara tahunan, pertumbuhannya mencapai 4,4%, lebih rendah dibanding 4,7% pada bulan sebelumnya. Sementara itu, simpanan nasabah perorangan sebesar Rp4.084,5 triliun, nyaris tidak berubah dibanding periode yang sama tahun lalu. Bahkan pada Maret 2025, segmen ini masih tumbuh tipis 1,1% YoY.
Bank Fokus pada Segmen Affluent
Jumlah nasabah kaya terus meningkat. Hal ini mendorong bank memperkuat bisnis wealth management dengan layanan konsultatif yang sesuai profil risiko nasabah.
PT Bank DBS Indonesia mencatat pertumbuhan dana kelolaan nasabah prioritas, DBS Treasures, sebesar 39% sejak 2022 hingga 2025. Direktur Consumer Banking DBS, Melfrida Gultom, menjelaskan pertumbuhan ini terjadi karena meningkatnya jumlah high net worth individuals (HNWI). Menurutnya, kebutuhan pengelolaan kekayaan menjadi lebih menyeluruh dan juga mencakup aspek bisnis.
Senada, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau BRI juga mencatat pertumbuhan dana kelolaan nasabah kelas atas sebesar 11,27% pada Mei 2025. Corporate Secretary BRI, Agustya Hendy Bernadi, menyebut bahwa hasil ini mencerminkan kepercayaan nasabah terhadap solusi keuangan BRI seperti BRI Private dan BRI Prioritas.
Mulai 1 Agustus 2025, BRI menaikkan batas minimal fund under management (FUM) bagi nasabah BRI Prioritas. Dari sebelumnya Rp500 juta menjadi Rp1 miliar. Syarat ini mencakup tabungan, deposito, giro, investasi, dan bancassurance. Nasabah lama diberikan waktu penyesuaian hingga 30 September 2025. Jika saldo belum sesuai, layanan akan disesuaikan otomatis mulai 1 Oktober 2025.
Strategi Bank Permata di Tengah Gejolak
Bank Permata juga menunjukkan pertumbuhan dua digit pada segmen nasabah kaya. Direktur Consumer Banking PermataBank, Djumariah Tenteram, menyebut jumlah nasabah layanan PermataBank Priority dan PermataBank Private tumbuh lebih dari 10% hingga pertengahan 2025.
Djumariah menjelaskan, bank berfokus pada peran konsultatif yang mempertimbangkan profil risiko nasabah dalam investasi. Tujuannya agar strategi investasi tetap sesuai dengan target keuangan masing-masing. PermataBank Priority mensyaratkan dana minimum Rp500 juta. Sementara PermataBank Private mewajibkan penempatan dana minimal Rp10 miliar.
Secara keseluruhan, meskipun dana pihak ketiga tumbuh melambat, potensi segmen nasabah kaya berhasil mendorong optimisme baru dalam sektor layanan keuangan. Transformasi dan inovasi dalam bisnis wealth management pun menjadi solusi strategis bagi bank dalam menjawab perubahan perilaku nasabah masa kini.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.
