Siemens tengah mengoptimalkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk memenuhi kebutuhan industri yang lebih spesifik. Dalam Siemens Tech Summit 2025 di Jakarta, Member of the Managing Board, Chief Technology Officer, sekaligus Chief Strategy Officer Siemens AG, Peter Koerte, menjabarkan perbedaan mendasar antara kecerdasan buatan untuk industri dan teknologi bahasa seperti ChatGPT.
AI industri Siemens lebih rinci dan sesuai dengan proses yang terjadi di pabrik. “Teknologi Large Language Model (LLM) memang belajar berdasarkan bahasa, tapi industri berbicara suhu, tegangan, koordinat, waktu, hingga gambar 2D dan 3D. Karena itu, Siemens melatih modelnya dengan data yang memang sesuai dengan karakteristik industri,” ujar Peter.
Mengoptimalkan Operasional Menggunakan AI Industri
Peter juga menekankan bahwa hanya dengan memahami data industri secara mendalam, teknologi AI dapat memberikan nilai tambah yang maksimal. Siemens saat ini menerapkan kecerdasan buatan untuk mendukung proses bisnis di berbagai sektor, mulai dari pusat data, pembangkit energi terdistribusi (microgrid), hingga manajemen gedung dan transportasi perkotaan.
Salah satu penerapan yang paling tampak adalah kerja sama Siemens dan Green Energy. Dalam kerja sama tersebut, teknologi AI Siemens mampu mengoptimalkan konsumsi energi sehingga turun 25%. Langkah tersebut juga turut meningkatkan proses bisnis dan membuat emisi lebih kompetitif.
Peter menjelaskan lebih rinci mengenai peran teknologi AI yang diterapkannya. Dengan data yang tersedia, Siemens dapat membuat prediksi mengenai potensi masalah dan melakukan perbaikan lebih dini. Mengelola energi di Indonesia juga bukan pekerjaan mudah, mengingat terdapat lebih dari 70.000 pulau. Siemens kemudian menghadirkan solusi microgrid otomatis yang mampu meminimalisir penggunaan diesel dan lebih bergantung pada energi surya dan baterai.
“Bagaimana menyatukan data dan informasi yang ada, kemudian menemukan pola dan pengetahuan yang berguna? Inilah yang kami lakukan di Siemens. Menghubungkan, melakukan automatisasi, dan mendigitalisasi proses industri,” ujar Peter.
Selain itu, Siemens juga meluncurkan teknologi Industri Co-Pilot — sebuah solusi AI yang dapat bertindak sebagai mitra kerja virtual bagi para operator dan teknisi. “Ini seperti teman kerja yang selalu siap membantu dan memberikan dukungan saat dibutuhkan, sehingga proses operasi lebih andal dan efisien,” katanya.
Surya Fitri, President Director dan CEO PT Siemens Indonesia, turut menekankan pentingnya penerapan teknologi AI yang sesuai kebutuhan masing-masing industri. Ke unggulan teknologi Siemens terletak pada kemampuannya menganalisis masalah, akar penyebab, dan waktu henti mesin secara mandiri. “Intinya, teknologi AI Siemens mampu memberikan solusi yang lebih luas dan sesuai tantangan yang dihadapi industri saat ini,” ujar Surya.
Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.






