Neta Auto Lakukan Restrukturisasi demi Keberlangsungan Bisnis Kendaraan Listrik

Neta Auto
Sumber Foto : Freepik

Neta Auto tengah melakukan restrukturisasi untuk menjaga kelanjutan bisnis kendaraan listriknya. Langkah tersebut diambil di tengah tekanan keuangan dan masalah operasional yang melanda pabrikan kendaraan listrik asal Tiongkok tersebut.

Managing Director PT Neta Auto Indonesia, Zhu Wenbin, menjelaskan proses restrukturisasi perusahaannya. Langkah tersebut dipimpin oleh pemerintah dan diawasi Pengadilan Menengah Rakyat Jiaxing di Provinsi Zhejiang. Tujuannya yaitu menyelesaikan masalah utang, mencari sumber pendanaan, melakukan perbaikan manajemen, dan membuka peluang bisnis yang lebih luas.

“Selama beberapa tahun terakhir, pabrikan kendaraan listrik asal Tiongkok itu tengah menghadapi tantangan. Penjualan turun, utang menumpuk, dan rantai pasokan terhambat. Keadaan tersebut kemudian mendorong proses restrukturisasi demi menjaga bisnis tetap berjalan dan mampu bersaing di tengah tekanan yang ada,” ujar Zhu Wenbin, Jumat (13/6/2025).

Langkah Mengoptimalkan Keuangan dan Operasional

Proses restrukturisasi juga melibatkan lembaga profesional. Langkah tersebut menjaga kepentingan kreditor, karyawan, dan pemilik kendaraan sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Perusahaan juga memberikan prioritas pada penyelesaian utang rantai pasokan dan masalah pelayanan purna jual.

Selain itu, pabrikan kendaraan listrik tersebut tengah mencari investor dan sumber pendanaan untuk mendukung proses bisnisnya. Dananya akan digunakan untuk melanjutkan proses produksi, melakukan pengembangan teknologi, dan ekspansi pasar internasional.

Tak hanya itu, tim manajemen juga tengah dioptimalkan. Seorang eksekutif senior yang punya rekam jejak di industri otomotif internasional akan ditunjuk untuk memimpin perbaikan tersebut.

Sementara di Tiongkok, pabrik kendaraan listrik di Tongxiang akan mulai aktif kembali. Langkah tersebut bertujuan memenuhi pesanan yang tengah menumpuk. Perusahaan juga menjaga kerja sama yang erat dengan para diler di luar negeri. Pasokan suku cadang dan jaringan pelayanan purna jual juga berjalan normal. Dalam proses tersebut, pertukaran utang dengan kepemilikan diberlakukan demi menjaga stabilitas bisnis.

Mengembangkan Model Kendaraan Listrik Baru

Pabrikan Tiongkok itu tengah merancang rencana strategis untuk lebih unggul di tengah ketatnya kompetisi kendaraan listrik. Dalam beberapa tahun ke depan, setidaknya akan ada tiga model kendaraan listrik yang lebih terjangkau. Rentang harganya mulai dari 150.000 hingga 250.000 yuan. Langkah tersebut juga memenuhi kebutuhan konsumen kalangan menengah ke atas.

Selain meluncurkan model kendaraan yang lebih bervariasi, perusahaan juga akan meningkatkan kerja sama dengan mitra penting, seperti CATL dan Huawei. Langkah tersebut demi penguatan teknologi dan lokalisasi produk. Dengan dukungan investor dan teknologi yang matang, pabrikan kendaraan listrik tersebut optimistis mampu menemukan peluang bisnis yang lebih luas di tengah perkembangan kendaraan bebas emisi.

Selain itu, manajemen juga akan menjaga transparansi dan memberikan laporan kemajuan restrukturisasi secara berkala di situs resmi dan saluran resmi perusahaan.

Penjualan Kendaraan Listrik di Indonesia Mengalami Kenaikan

Sebelumnya, pabrikan kendaraan listrik tersebut tengah diterpa masalah keuangan yang melibatkan tunggakan utang lebih dari 6 miliar yuan (setara US$ 833 juta). CATL, sebagai satu di antara pemasok penting, sempat menangguhkan pengirimannya sehingga proses produksi terhenti. Kendati demikian, pabrikan tersebut masih mendapatkan dukungan pembiayaan dari sebuah bank di Thailand senilai 2,15 miliar yuan (hampir US$ 300 juta).

Selain masalah keuangan, pabrikan kendaraan listrik juga tengah bergelut melawan penurunan penjualan. Pengirimannya turun dari 152.000 unit pada 2022 menjadi 127.500 unit di 2023. Lalu, turun lagi menjadi 64.549 unit di 2024. Situasi juga diberatkan oleh proses pengurangan karyawan, penutupan diler, dan protes dari para pemasok.

Bagaimana penjualan kendaraan listrik tersebut di Indonesia? Mengacu data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan wholesales sepanjang Januari–Mei 2025 mencapai 310 unit, dengan pangsa pasar 0,1%. Sementara itu, penjualan ritel mencapai 256 unit pada periode yang sama.

Jumlah tersebut juga naik tipis dari 50 unit pada April menjadi 51 unit pada Mei 2025. PT Neta Auto Indonesia juga tengah menutup diler pertamanya di Kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada April 2025. Perusahaan saat ini tengah memasarkan Neta V-II dan Neta X di Indonesia.


Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.

Sumber : bisnis.com

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *