Penyaluran Kredit Sektor Pertambangan Masih Tumbuh Positif di Tengah Diversifikasi Batu Bara

Penyaluran kredit perbankan
Sumber Foto : Freepik

Penyaluran kredit perbankan di Indonesia untuk sektor pertambangan dan penggalian, termasuk pertambangan batu bara, terus melaju positif meskipun sejumlah emiten tengah melakukan diversifikasi bisnis. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan, hingga Desember 2024, penyaluran kredit untuk sektor tersebut mencapai Rp 373,51 triliun. Capaian itu naik 28,59% (YoY) dan lebih unggul dibanding pertumbuhan tahun sebelumnya yang mencapai 22,36%.

Berdasarkan laporan OJK, subsektor pertambangan logam dan bijih timah turut mendorong pertumbuhan kredit perbankan. Penyaluran untuk subsektor tersebut melesat 55,26% per Desember 2024, jauh lebih pesat dibanding 28,35% (YoY) pada tahun sebelumnya.

Kredit Batu Bara Mengalami Perlambatan di Kalimantan

Meskipun pertumbuhannya positif, OJK juga menemukan terjadi perlambatan pada penyaluran kredit untuk pertambangan batu bara di Kalimantan. Provinsi Kalimantan Timur, yang merupakan pusat pertambangan, justru tercatat terjadi kontraksi yaitu turun Rp 4,3 triliun atau -9,30%. Penurunan tersebut terjadi dari posisi yang sebelumnya mampu naik 40,68% per Desember 2023.

OJK menyebut perlambatan tersebut disebabkan oleh turunnya aktivitas pertambangan batu bara, penggalian gambut, dan proses gasifikasi. Sementara dari keseluruhan perbankan, penyaluran kredit tetap naik 10,39% (YoY) per Desember 2024, lebih stabil dibanding pertumbuhannya yang mencapai 10,38% (YoY) pada Desember 2023.

Dari segi porsi, sektor rumah tangga memberikan kontribusi terbesar, yaitu 23,47% dari total penyaluran kredit perbankan, yang mencapai Rp 1.836,89 triliun per Desember 2024. Sektor administrasi pemerintahan juga turut melesat, mencatat pertumbuhan 48,09% (YoY) dengan total mencapai Rp 96,69 triliun.

Emiten Mengurangi Ketergantungan Batu Bara

Selain perlambatan tersebut, sejumlah emiten tengah melakukan diversifikasi bisnisnya untuk lebih mandiri dan ramah lingkungan. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) misalnya, tengah memangkas ketergantungannya pada bisnis pertambangan batu bara. Adaro melakukan spin-off dan mendirikan entitas baru, yaitu PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI).

Menurut Presiden Direktur ADRO, Garibaldi Thohir, langkah tersebut bertujuan untuk mencapai portofolio bisnis yang lebih seimbang dan mampu memenuhi target 50% pendapatan dari bisnis nonbatu bara termal paling lambat pada 2030. Langkah serupa juga tengah diikuti oleh PT Indika Energy Tbk. (INDY) yang tengah menargetkan 50% pendapatannya berasal dari bisnis nonbatu bara pada 2028, sehingga mampu mencapai emisi karbon bersih (net-zero) di tahun 2050.


Masih banyak artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Temukan pilihan topik terbaik kami di roledu.com/artikel.

Sumber : bisnis.com

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *